Di sisi lain, ada kebiasaan buruk di kalangan kita, para santri. Yaitu suka menciptakan musuh imajiner. Seolah-olah NU terus diserang oleh kelompok anti-NU, padahal yang dikritik kan cuma orang NU tertentu. Kok tidak ada kader Muhammadiyah yang dapat kritik serupa? Pandangan konspiratif macam begini harus dihentikan kalau kita mau maju.
Nyatanya, internal Muhammadiyah dalam mengkritik dirinya sendiri jauh lebih progresif. PP Muhammadiyah saja didemo oleh warganya sendiri ketika kebijakan soal tambang dirasa bermasalah.
Coba bayangkan jika demo serupa terjadi di depan kantor PBNU. Bisa-bisa dihadang Banser dan dituding sebagai PKI, dianggap su'ul adab, tidak hormat pada kiai. Soalnya, figur kiai sudah terlanjur dipandang hampir mustahil untuk bersalah.
Nah, pola membuat musuh imajiner ini juga dilakukan Ulil belakangan. Dia memframing semua pihak yang tidak setuju ormas mengelola tambang sebagai kelompok "zero mining" dan ekstremis sekular. Ini ngawur dan terasa menjijikkan.
Sudahlah, Mas Wali. Kalau belum paham betul, lebih baik diam. Mendingan fokus menulis buku lagi syukur-syukur bisa terbit di penerbit kredibel seperti Routledge atau Verso. Atau, latihan menulis untuk jurnal internasional yang bereputasi. Jangan mau terus-terusan jadi intelektual medsos, dong.
Catatan: Zulhas dan Raja Juli bukan representasi resmi ormas Muhammadiyah.
Artikel Terkait
Sindikat Oplosan Gas Elpiji di Palembang Digerebek, Untung Hampir Rp4 Juta Sehari
Hoaks Video Viral Gym Ambarawa, Polisi Ungkap Modus Pencabulan di Balik Heboh Medsos
Jakarta Terapkan Sekolah Daring, Antisipasi Cuaca Ekstrem hingga Akhir Januari
Prabowo Buka Suara di Davos: Dari Menolak Undangan hingga Pamer Prestasi Setahun Memimpin