Waspada DBD Jaksel: 1.384 Kasus Terjadi hingga November 2025

- Kamis, 20 November 2025 | 09:35 WIB
Waspada DBD Jaksel: 1.384 Kasus Terjadi hingga November 2025
Laporan DBD Jakarta Selatan

Hingga pertengahan November 2025, Jakarta Selatan sudah mencatat 1.384 kasus demam berdarah dengue atau DBD. Angka ini cukup mengkhawatirkan, meski beberapa bulan terakhir trennya mulai turun.

Yudi Dimyati, Kepala Suku Dinas Kesehatan setempat, membenarkan data tersebut. "Total kasus DBD di Jakarta Selatan tercatat 1.384 sampai pertengahan November," ujarnya, Kamis (20/11/2025). Menurutnya, laporan ini berasal dari 10 kecamatan dengan pola yang fluktuatif sepanjang tahun.

Kalau dilihat dari bulan, Juli jadi puncaknya dengan 181 kasus. Januari menyusul dengan 169 kasus, lalu Februari 141 kasus. Naik-turun, tapi tetap harus diwaspadai.

Dari sisi wilayah, Pancoran menempati urutan pertama dengan 216 kasus. Jagakarsa di posisi kedua dengan 192 kasus, disusul Mampang Prapatan 171, Pasar Minggu 160, dan Pesanggrahan 145 kasus. Jadi, lima kecamatan ini yang paling banyak kasus DBD-nya.

Di sisi lain, Yudi menegaskan bahwa Dinkes Jaksel terus memantau dan memperkuat langkah pencegahan di semua kecamatan. "Kita terus memonitor dan memperkuat langkah pencegahan di seluruh kecamatan," tegasnya.

Upaya yang dilakukan cukup beragam. Mulai dari memaksimalkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk dua kali seminggu. Lalu ada juga pengasapan atau fogging di lingkungan sekolah dan permukiman warga.

Tak ketinggalan, sosialisasi ke warga tentang cara mencegah DBD juga digencarkan. Bahkan, di sejumlah sekolah diajarkan cara bikin perangkap nyamuk atau flytrap.

Yudi juga berpesan, masyarakat harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan kalau mengalami gejala seperti demam tinggi atau nyeri otot. Jangan sampai lengah.

Secara keseluruhan DKI Jakarta, data yang dihimpun menunjukkan 9.362 kasus DBD hingga pertengahan November. Jakarta Barat jadi yang tertinggi dengan 2.676 kasus. Jakarta Selatan sendiri berada di urutan berikutnya. Jadi, waspada tetap harus, meski tren di Jaksel mulai melandai.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar