Ramadan dan Risiko Kecelakaan Spiritual dalam Ibadah Puasa

- Kamis, 26 Februari 2026 | 11:35 WIB
Ramadan dan Risiko Kecelakaan Spiritual dalam Ibadah Puasa

Ramadan selalu kita sambut dengan penuh suka cita. Bulan keselamatan, bulan pahala yang dilipatgandakan, pintu ampunan terbuka lebar, dan janji ketakwaan. Tapi, ada satu sisi yang jarang kita bicarakan: soal "kecelakaan". Iya, kecelakaan.

Bukan kecelakaan lalu lintas, ya. Tapi kecelakaan spiritual. Saat ibadah yang mestinya menyelamatkan, malah berbalik jadi sumber kerugian.

Al-Qur'an punya cara unik menyebut tujuan puasa. "La'allakum tattaqun," kata-Nya, agar kalian bertakwa. Kata "la'alla" itu menarik. Ia bukan bahasa kepastian, tapi lebih ke harapan. Artinya, puasa itu peluang emas menuju takwa, bukan jaminan otomatis. Dan setiap peluang, selalu ada risiko gagal di dalamnya.

Pola yang Terus Berulang

Kalau kita perhatikan, Al-Qur'an menunjukkan pola yang konsisten. Setiap ibadah punya dua kemungkinan: mengangkat derajat atau justru jadi sebab kecelakaan. Shalat, misalnya. Ia dipuji sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Tapi di ayat lain, ada peringatan keras: "Celakalah orang-orang yang shalat." Kenapa? Bukan karena mereka enggak shalat, tapi karena lalai dan kehilangan makna sejatinya.

Infak juga begitu. Dijanjikan pahala berlipat-lipat, tujuh ratus kali bahkan. Namun pahala itu bisa gugur begitu saja hanya karena sikap suka mengungkit dan menyakiti hati penerima.

Nah, puasa tak lepas dari pola ini. Nabi Muhammad ﷺ sudah mengingatkan kita: betapa banyak orang berpuasa, tapi yang didapat cuma lapar dan dahaga. Itulah gambaran nyata dari sebuah kecelakaan dalam ibadah.

Empat Jenis Kecelakaan yang Mengintai

Setidaknya, ada empat bentuk kecelakaan yang bisa menghampiri orang yang berpuasa.

Pertama, kecelakaan niat. Puasa itu sangat bergantung pada keikhlasan. Dalam hadis qudsi disebutkan, puasa itu khusus untuk Allah, dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Keistimewaan ini sekaligus jadi ujian paling sunyi: apakah kita benar-benar melakukannya karena Allah, atau cuma ikut-ikutan, karena gengsi sosial, atau sekadar tradisi tahunan?

Kalau niatnya sudah bergeser, yang tersisa ya cuma rasa lapar dan haus. Secara lahiriah sah, tapi secara batin bisa jadi kosong melompong. Dan ibadah yang kosong adalah kecelakaan yang seringkali tak terasa.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar