Upaya yang dilakukan cukup beragam. Mulai dari memaksimalkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk dua kali seminggu. Lalu ada juga pengasapan atau fogging di lingkungan sekolah dan permukiman warga.
Tak ketinggalan, sosialisasi ke warga tentang cara mencegah DBD juga digencarkan. Bahkan, di sejumlah sekolah diajarkan cara bikin perangkap nyamuk atau flytrap.
Yudi juga berpesan, masyarakat harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan kalau mengalami gejala seperti demam tinggi atau nyeri otot. Jangan sampai lengah.
Secara keseluruhan DKI Jakarta, data yang dihimpun menunjukkan 9.362 kasus DBD hingga pertengahan November. Jakarta Barat jadi yang tertinggi dengan 2.676 kasus. Jakarta Selatan sendiri berada di urutan berikutnya. Jadi, waspada tetap harus, meski tren di Jaksel mulai melandai.
Artikel Terkait
Pramono Anung Ziarah ke Makam MH Thamrin, Serukan Persatuan Kaum Betawi
Google Bantah Keterkaitan Investasi Gojek dengan Skandal Chromebook Kemendikbud
Degradasi Moral di Jakarta: Bonus Demografi atau Bom Waktu bagi Generasi Muda?
Rambu Baru di CFD Bundaran HI: Solusi atau Sekadar Peringatan?