YOGYAKARTA – Kabar meninggalnya John Tobing Rabu malam lalu benar-benar mengejutkan. Sosok di balik lagu 'Darah Juang' itu berpulang di RSA UGM, sekitar pukul 20.45 WIB. Usianya baru genap 60 tahun. Sejak berita itu tersiar, publik pun ramai mencari tahu, siapa sebenarnya John Tobing.
Bagi yang belum mengenalnya, pria bernama lengkap Johnsony Maharsak Lumban Tobing ini bukan cuma musisi biasa. Dia adalah aktivis. Lagu 'Darah Juang' yang digubahnya di awal 90-an, menjelma menjadi nyanyian perlawanan yang paling menyayat. Terutama saat gelombang Reformasi 1998 melanda. Hingga kini, lagu itu masih terus dikumandangkan, seakan tak lekang oleh waktu.
Lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965, perjalanan hidupnya banyak dihabiskan di Yogyakarta. Dia menimba ilmu di Fakultas Filsafat UGM, angkatan 86. Namun, kampus bukan hanya tempatnya belajar teori. Sejak muda, John sudah aktif di organisasi mahasiswa dan berbagai aksi sosial. Semangatnya itu yang kemudian tercurah dalam 'Darah Juang' sebuah karya yang menjadi suara bersama bagi ribuan orang di tengah gejolak sosial-politik.
Menurut sejumlah saksi, kondisi kesehatannya memang sudah menurun belakangan ini. John diketahui memiliki riwayat stroke dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kepergiannya tentu meninggalkan duka yang dalam. Banyak kalangan, mulai dari sesama aktivis, keluarga besar alumni UGM, hingga tokoh masyarakat, menyampaikan belasungkawa. Melalui sebuah unggahan di Instagram Kagama Channel, misalnya, mereka berharap jasanya selalu dikenang. "Semoga karya dan semangat almarhum terus menginspirasi generasi penerus," kira-kira begitu bunyi pesan yang beredar.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH ASN Turunkan Jumlah Penumpang LRT Jabodebek 10 Persen
Arbeloa Tegaskan Real Madrid Tak Akan Menyerah di Pengejaran Gelar La Liga
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh