Spontan, kamera kuangkat lagi. Kujepret momen itu. Sederhana banget. Tangan yang kasar, topi yang lusuh, tapi punya cerita. Di tengah hiruk-pikuk pasar yang sibuk, kehadirannya seperti jeda. Sebuah titik diam di tengah kota yang selalu terburu-buru.
Melihat hasil fotonya nanti, aku jadi tersadar. Dari seorang asing yang tak sengaja kulihat, aku dapat pelajaran. Di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, ternyata masih ada orang yang menjalani hidup dengan pelan. Penuh kesabaran. Dan sangat sederhana.
Jadi, tugas fotografi sore itu memang beres. Tapi yang kudapat bukan cuma sekadar nilai dari dosen. Aku pulang membawa sebuah momen kecil yang bermakna. Sejenak aku diajak melihat lebih dekat kehidupan orang yang biasanya cuma lewat di depan mata. Cerita biasa tentang kesabaran menunggu setoran, dan kesetiaan sebuah becak tua yang setia menghidupi pemiliknya.
Artikel Terkait
BNN Angkat Bicara Soal Tren Whip Pink yang Disalahgunakan untuk Mabuk
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius
Sengketa Lahan Berujung Adu Senjata Angin di Padang Lawas Utara
Dua Kelarga Berdamai, Kasus Penganiayaan Anak di Warung Kelontong Ditutup