Ketegangan di Selat Taiwan kembali memanas. Pemicunya adalah percakapan telepon antara Presiden China Xi Jinping dan mantan Presiden AS Donald Trump. Dalam pembicaraan itu, Xi dengan tegas menyampaikan posisi negaranya mengenai Taiwan, sebuah isu yang selalu jadi titik sensitif.
Menurut laporan kantor berita Xinhua, Xi menekankan bahwa reunifikasi Taiwan dengan China merupakan elemen krusial dalam tatanan internasional pasca-Perang Dunia. Dia berargumen, kerja sama China dan AS dulu berhasil melawan fasisme, dan kini penting untuk menjaga warisan kemenangan perang itu.
Namun begitu, pernyataan Xi langsung mendapat reaksi keras dari Taipei. Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai dengan lantang menolak gagasan reunifikasi. Dia berdiri di depan gedung parlemen, menyampaikan sikap pemerintahnya.
Memang, tawaran model "satu negara, dua sistem" dari Beijing selalu ditolak mentah-mentah oleh Taipei. Bagi China, urusan Taiwan adalah yang paling penting dan sensitif dalam diplomasinya. Di sisi lain, Taiwan bersikukuh dengan statusnya.
Artikel Terkait
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa
Isu Kabur dan Aset Miliaran: Mengapa Narasi Pelarian Khamenei Tak Menyentuh Realitas?
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Dugaan Manipulasi Pengurangan Pajak
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru