Kita sering mengira henti jantung cuma terjadi di ruang ICU, pada pasien yang sudah terbaring sakit. Tapi coba lihat sekeliling. Kampus, kantor, mal, atau bahkan ruang tamu kita sendiri semua tempat itu bisa menjadi lokasi kejadian. Dan yang paling menakutkan, serangan ini kerap datang tanpa aba-aba sama sekali.
Henti jantung mendadak itu sederhananya saat jantung tiba-tiba berhenti memompa. Darah berhenti mengalir, oksigen ke otak pun terputus. Cuma butuh waktu 4 sampai 6 menit, kerusakan otak bisa mulai terjadi. Peluang hidup korban terus merosot dengan setiap detik yang berlalu.
Menunggu ambulans datang sambil berpangku tangan? Itu artinya membuang kesempatan berharga yang mungkin tak terulang.
Di sisi lain, masih banyak yang beranggapan bahwa menolong korban adalah urusan dokter atau perawat. Padahal, nyatanya, orang biasa yang pertama menemui korban justru memegang kunci keselamatan. Mereka adalah penentu utama antara hidup dan mati.
Namun begitu, ada kabar baik. Menolong ternyata tidak harus serumit yang dibayangkan. American Heart Association (AHA) punya rekomendasi metode Hand-Only CPR, alias CPR hanya dengan kompresi dada, buat orang awam seperti kita. Desainnya memang dibuat simpel: mudah dipelajari, gampang diingat, dan yang penting, bikin kita berani untuk bertindak.
Caranya gimana? Pertama, pastikan korban benar-benar tidak sadar dan napasnya tidak normal. Lalu, telepon atau minta orang lain untuk menghubungi layanan darurat. Setelah itu, tekan bagian tengah dada korban dengan kuat dan cepat. Usahakan ritmenya sekitar 100 sampai 120 tekanan per menit. Tidak perlu napas buatan, tidak butuh alat khusus. Yang utama adalah kecepatan dan keberanian memulai.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan