Pemerhati Desak Sterilisasi Jalur Transjakarta untuk Dongkrak Kualitas Layanan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 17:45 WIB
Pemerhati Desak Sterilisasi Jalur Transjakarta untuk Dongkrak Kualitas Layanan

Jakarta – Layanan Transjakarta terus dipadati penumpang. Tapi, di balik angka pertumbuhan yang impresif itu, ada persoalan klasik yang belum tuntas: jalur khususnya yang masih belum benar-benar steril.

Pemerhati Jakarta, Zulfikar Marikar, mendesak agar sterilisasi jalur busway segera dilakukan. Tanpa itu, menurutnya, peningkatan kualitas layanan transportasi publik ibukota akan sulit tercapai.

Angkanya memang tak main-main. Data BPS DKI Jakarta mencatat, pada Desember 2025 lalu, jumlah penumpang Transjakarta menyentuh 37,46 juta orang. Kalau dilihat sepanjang tahun 2025, layanan ini bahkan mengangkut sekitar 413 juta penumpang. Itu artinya ada pertumbuhan 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang 'hanya' 372 juta.

Rata-ratanya? Lebih dari satu juta orang setiap harinya bergantung pada bus berwarna merah ini. Tren naik terus berlanjut. Di Januari 2026, pelanggan mencapai 35,36 juta, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan volume pengguna sebesar itu, Transjakarta harus mendapatkan prioritas dalam aspek kecepatan dan ketepatan waktu," tegas Zulfikar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/2/2026).

Ia mengakui, lonjakan penumpang ini tak lepas dari berbagai kebijakan Pemprov DKI di bawah Gubernur Pramono Anung dan Wagub Rano Karno. Program seperti 'Rabu Wajib Transportasi Umum' bagi ASN, misalnya, jelas memberi dampak signifikan.

Namun begitu, ada masalah mendasar yang menggerus keuntungan dari pertumbuhan tersebut. Zulfikar menyoroti, masih ada beberapa koridor dimana jalur Transjakarta bercampur dengan lalu lintas biasa. Mobil pribadi, sepeda motor, bahkan angkutan umum lain seenaknya masuk. Padahal, sebagai sistem BRT, syarat utamanya adalah jalur eksklusif.

"Ketika jalur tidak steril, risiko kecelakaan meningkat, waktu tempuh tidak pasti, dan jadwal terganggu," ujarnya.

Ia melanjutkan, kondisi itu pada akhirnya mengurangi efektivitas BRT sebagai alternatif nyata dari kendaraan pribadi. Buat apa naik bus cepat kalau ujung-ujungnya terjebak macam juga?

Karena itulah, Zulfikar mendorong pemasangan separator permanen di semua koridor. Memang, langkah ini butuh biaya dan penataan ulang arus lalu lintas yang tidak sederhana. Tapi, menurutnya, investasi itu penting. Hasilnya akan terasa: layanan lebih andal, kemacetan berkurang, dan emisi pun bisa ditekan.

"Sterilisasi jalur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Transjakarta semakin optimal sebagai tulang punggung mobilitas warga," tutupnya tegas.

Pesan itu jelas. Pertumbuhan jumlah penumpang adalah capaian. Tapi, tanpa infrastruktur pendukung yang mumpuni, capaian itu bisa sia-sia. Warga Jakarta butuh busway yang bukan hanya banyak, tapi juga cepat dan tepat waktu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar