Tim Produksi Film Dokumenter Pesta Babi Akhirnya Buka Suara Usai Dilaporkan Tokoh Adat Papua ke Polisi

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 21:05 WIB
Tim Produksi Film Dokumenter Pesta Babi Akhirnya Buka Suara Usai Dilaporkan Tokoh Adat Papua ke Polisi

Tim kolaborasi di balik film dokumenter “Pesta Babi” akhirnya angkat bicara menyusul langkah hukum yang ditempuh oleh Yasinta Moiwend, atau yang akrab disapa Mama Sinta, seorang tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke. Mama Sinta diketahui telah melaporkan tim produksi film tersebut ke Polda Metro Jaya. Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun media sosial Watchdoc Documentary, tim produksi menyatakan menghormati setiap keputusan yang diambil oleh Mama Sinta.

“Mama Yasinta Moiwend adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini berlangsung. Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini,” demikian bunyi pernyataan tertulis yang dikutip pada Sabtu (30/5/2026).

Dalam pernyataan yang sama, tim produksi juga meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi Mama Sinta. “Meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” imbuh pernyataan tersebut.

Tim kolaborasi film “Pesta Babi” sendiri terdiri dari sejumlah organisasi, yakni Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc. Mereka mengaku belum bisa menjalin komunikasi langsung dengan Mama Sinta sejak video pernyataan yang bersangkutan viral hingga laporan polisi resmi diajukan. Upaya untuk berkoordinasi dengan Mama Sinta dan keluarganya masih terus dilakukan.

“Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya. Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua,” ujar perwakilan tim dalam keterangan yang sama.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar