Rasa ragu itu wajar. Takut salah, takut disalahkan, atau malah memperparah keadaan. Tapi dalam kasus henti jantung, diam sama sekali justru pilihan terburuk. CPR yang dilakukan meski kurang sempurna, tetap jauh lebih baik daripada membiarkan otak korban kelaparan oksigen.
AHA sendiri sudah menegaskan, Hand-Only CPR terbukti bisa meningkatkan angka keselamatan korban henti jantung di luar rumah sakit. Artinya, pengetahuan dasar ini benar-benar bisa jadi pembeda.
Di Indonesia, tantangannya dobel. Selain akses layanan darurat yang belum merata, literasi soal pertolongan pertama juga masih sangat minim. Edukasi Hand-Only CPR nggak boleh cuma berhenti di pelatihan medis. Ini harus jadi pengetahuan publik, disosialisasikan di sekolah, kampus, kantor, sampai tempat nongkrong.
Kita tidak akan pernah bisa menebak kapan akan menjadi saksi pertama sebuah keadaan darurat. Tapi satu hal yang pasti: saat henti jantung terjadi, waktu terus berjalan tanpa peduli.
Jadi, belajar Hand-Only CPR ini bukan soal jadi tenaga kesehatan. Ini lebih tentang kesiapan kita sebagai sesama manusia untuk mengambil alih ketika nyawa orang lain di ujung tanduk. Karena siapa tahu, orang yang menyelamatkan itu bisa jadi adalah kita sendiri.
Artikel Terkait
Cara Nonaktifkan Suara Jepretan Kamera iPhone Sesuai Model
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan