Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:42 WIB
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa

Laporan yang mengejutkan datang dari Iran pada Jumat lalu. Sebuah organisasi HAM independen, Iran Human Rights, mengungkapkan bahwa setidaknya 51 orang telah kehilangan nyawa dalam aksi unjuk rasa yang melanda negara itu. Angka itu didapat dari perhitungan mereka sendiri.

“Sebanyak 51 orang demonstran, termasuk sembilan anak di bawah 18 tahun, terbunuh,” tegas pernyataan LSM tersebut, yang dikutip oleh kantor berita AFP.

“Ratusan lainnya terluka pada 13 hari pertama protes di seluruh Iran,” sambungnya.

Gelombang demo ini sebenarnya sudah dimulai sejak Desember tahun lalu. Awalnya, kemarahan warga menyala lantaran biaya hidup yang melambung tinggi, imbas dari nilai mata uang rial yang terus merosot. Mereka membanjiri jalanan di Teheran dan kota-kota besar lainnya.

Namun begitu, situasinya kian berkembang. Kini, amarah massa tak lagi hanya soal ekonomi. Suara-suara penentang mulai mengarah langsung pada kekuasaan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Unjuk rasa pun kian meluas dan memanas.

Merespons hal ini, Khamenei langsung menuding ada campur tangan asing. Pada hari Jumat itu pula, dia menyebut Amerika Serikat dan kelompok oposisi berada di balik kerusuhan.

Tak tinggal diam, Presiden AS Donald Trump langsung membalas. Dia menyebut Iran sedang berada dalam masalah besar dan tak segan mengeluarkan ancaman serangan.

Sementara di lapangan, upaya meredam aksi dilakukan dengan cara yang drastis. Akses internet dan jaringan telepon diputus sejak Jumat, membuat informasi dari dalam negeri sulit didapat. Suasana mencekam.

Di sisi lain, ancaman juga datang dari otoritas. Lembaga yudikatif Iran mengeluarkan pernyataan keras yang menjanjikan hukuman berat bagi siapa saja yang mereka anggap sebagai perusuh. Situasi semakin runyam, dan korban jiwa dikhawatirkan terus bertambah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar