Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belum usai. Di tengah upaya evakuasi dan pencarian korban, Kementerian Kesehatan justru menggarisbawahi satu masalah genting: kondisi di pengungsian. Laporan situasi terbaru mereka menyoroti kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.
Daftar barang yang dibutuhkan ternyata cukup panjang. Mulai dari obat-obatan, masker, hingga sarung tangan. Tak ketinggalan, Pemberian Makan Tambahan untuk balita dan ibu hamil, perlengkapan sanitasi, water purifier, hingga konsentrator oksigen. Intinya, pasokan air bersih dan dukungan medis jadi prioritas.
Namun begitu, yang tak kalah krusial adalah ketersediaan tenaga kesehatan. Kemenkes merinci jenis dan jumlah SDM medis yang dibutuhkan di tiap wilayah. Di Aceh, misalnya, dibutuhkan 5 dokter spesialis penyakit dalam dan 15 dokter umum. Sementara untuk perawat, diperlukan 17 orang.
Kebutuhan di Sumatera Utara terlihat lebih besar, terutama di Tapanuli Tengah. Daerah itu meminta 50 orang untuk masing-masing posisi: dokter umum, perawat, bidan, dan sanitarian. Berbeda lagi dengan Kota Sibolga yang justru membutuhkan lebih banyak tenaga spesialis, seperti dokter bedah dan anastesi, ditambah tenaga farmasi dan laboratorium.
Provinsi Sumatera Barat punya daftar sendiri. Mereka memerlukan 6 dokter spesialis penyakit dalam, 12 dokter umum, serta sejumlah perawat dan bidan.
Kebutuhan ini muncul bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Kemenkes sudah merilis daftar penyakit yang banyak menjangkiti pengungsi. Luka-luka, infeksi saluran pernapasan (ISPA), diare, demam, dan nyeri otot atau myalgia mendominasi. Data ini dihimpun dari laporan Dinas Kesehatan daerah per 1 Desember 2025.
Meski begitu, angka-angka itu disebut masih bisa berubah. Akses menuju sejumlah lokasi bencana dikabarkan masih sangat sulit, sehingga pelaporan belum maksimal.
Aji Mulawarman dari Biro Komunikasi Kemenkes menegaskan, pengendalian penyakit di lokasi pengungsian adalah fokus utama saat ini.
"Fokus utama di pengungsian untuk antisipasi penyakit pasca bencana. Juga penanganan bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pasien cuci darah," jelasnya, Selasa (2/12).
Di sisi lain, kabar duka terus berdatangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban hingga Selasa sore. Angkanya sungguh memilukan: 712 orang meninggal dunia.
Data yang dirilis Pusdatin BNPB per pukul 17.11 WIB itu juga mencatat 507 orang masih dinyatakan hilang. Korban terluka mencapai 2.564 jiwa. Yang terdampak bencana ini secara keseluruhan mencapai 3,3 juta orang, dengan sekitar 1,1 juta di antaranya terpaksa mengungsi.
Jika dirinci, Aceh mencatat 218 korban jiwa dengan 227 orang hilang. Sumatera Barat kehilangan 193 warga, dan 117 lainnya belum ditemukan. Sementara Sumatera Utara menjadi provinsi dengan korban meninggal tertinggi, yakni 301 orang, ditambah 163 orang yang masih dicari.
Kerusakan infrastruktur pun masif. Lebih dari 3.600 rumah rusak berat, ribuan lainnya rusak sedang dan ringan. Tak kurang dari 323 fasilitas pendidikan dan 299 jembatan turut mengalami kerusakan.
Pembahasan mendalam seputar penanganan bencana ini bisa disimak dalam program detikPagi edisi Rabu (03/12/2025). Acara ini tayang live setiap Senin hingga Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB.
"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"
Artikel Terkait
Jenazah Pria Ditemukan Membusuk di Rumahnya di Bojonggede Setelah Diduga Dua Bulan
Bareskrim Gagalkan Penyelundupan 12 Kg Sabu Malaysia-Surabaya di Bakauheni
Empat Pemain Goal Aksis Dipanggil Timnas Putri U-17 untuk TC di Prancis
Ketua TP PKK Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Tekankan Pendidikan Keluarga