MAKASSAR – Hampir dua pekan konflik berkecamuk. Kini, muncul secercah peluang, meski syaratnya tak mudah. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyodorkan tiga prasyarat utama kepada Amerika Serikat jika ingin Teheran kembali duduk di meja perundingan.
Isyarat itu disampaikan Pezeshkian dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Rabu lalu. Ini sudah kedua kalinya mereka berbicara dalam seminggu, membahas situasi panas di Timur Tengah dan kemungkinan jalan damai.
Rusia, seperti kita tahu, adalah sekutu strategis Iran. Jadi, pembicaraan ini punya bobot yang signifikan.
Intinya, Iran tak sepenuhnya menutup pintu diplomasi. Tapi, menurut Pezeshkian, jalan itu baru bisa dilalui jika Washington memenuhi beberapa tuntutan. Dan kepercayaan Teheran terhadap AS saat ini, harus diakui, sangat tipis.
Lalu, apa saja syaratnya?
Pertama, soal harga diri. Iran menuntut penghormatan penuh terhadap kedaulatannya. Ini, bagi mereka, adalah fondasi mutlak. Tanpa itu, percuma saja berunding.
Kedua, mereka minta kompensasi. Ganti rugi atas kerusakan akibat serangan gabungan AS dan Israel akhir Februari lalu. Serangan itulah yang memantik eskalasi dan membuat kawasan jadi makin bergejolak.
Yang ketiga, jaminan. Teheran ingin kepastian bahwa agresi militer serupa tidak akan terulang di masa depan. Mereka tak mau kejadian itu berulang.
Menurut pantauan sejumlah media internasional, Iran kini sedang menunggu. Menunggu respons terhadap tuntutan itu dari pihak-pihak terkait.
Namun begitu, situasi di lapangan tetap tegang. Suasana di Timur Tengah masih seperti bara dalam sekam, rentan menyala kembali kapan saja sejak rentetan serangan akhir Februari itu. Peluang dialog ada, tapi jalannya masih terjal dan penuh prasyarat.
Artikel Terkait
Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Perlakuan ke Anak Lebih Sadis dari Kamp Guantanamo
Pembicaraan Langsung AS-Iran Batal, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan
Petani Sambut Target Swasembada Pangan Prabowo, Harap Ego Sektoral Dikikis
Mantan Wamenaker Noel Akui Terima Rp 3 Miliar dari Pejabat Kemnaker, Bantah Pemerasan