Gubernur Soroti Desain Gedung Tumbuh Usai Kebakaran Maut di Terra Drone

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:36 WIB
Gubernur Soroti Desain Gedung Tumbuh Usai Kebakaran Maut di Terra Drone

Kebakaran hebat di gedung Terra Drone, Jakarta Pusat, awal pekan ini masih menyisakan duka. Korban jiwa mencapai 22 orang. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya angkat bicara dan menyoroti satu hal yang menurutnya jadi masalah utama: desain bangunannya sendiri.

Pramono menyebut gedung itu sebagai 'gedung tumbuh'. Apa maksudnya?

"Jadi ada bangunan lama, tiba-tiba dibangun satu gedung yang tumbuh, yang berbeda dengan kiri-kanannya. Ketinggiannya enam tingkat," tutur Pram usai membuka sebuah konferensi di Balai Kota, Sabtu (13/12).

Menurutnya, gedung yang 'tumbuh' begitu saja itu punya masalah serius. "Tetapi baik jalan ke atas, maupun ke bawah tidak diatur. Bahkan, di sepanjang jalan naik ke atas itu ditempatkan baterai untuk drone. Itulah yang menyebabkan kebakaran yang sangat dahsyat," lanjut dia.

Di sisi lain, penanganan kasus kini sudah diambil alih kepolisian. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata Pram, tak tinggal diam. Mereka akan menanggung semua kebutuhan terkait penguburan dan penanganan kesehatan para korban.

“Siapa pun yang berkaitan dengan penguburan dan penanganan kesehatannya menjadi tanggung jawab Pemerintah DKI Jakarta. Ada beberapa yang dikuburkan di daerahnya masing-masing, itu monggo,” ucapnya tegas.

Kejadian ini rupanya jadi alarm. Pramono langsung memerintahkan jajarannya untuk bergerak. Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata), Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) diperintahkan memeriksa ulang kelayakan gedung-gedung di Jakarta.

“Hal yang berkaitan gedung-gedung, saya sudah memerintahkan kepada dinas terkait Citata, Bina Marga, PTSP, semuanya untuk memeriksa kembali,” katanya.

Percikan Api dari Baterai Rusak

Lalu, apa sebenarnya pemicu kobaran api yang mematikan itu? Polres Metro Jakarta Pusat sudah punya jawabannya. Penyebab utamanya adalah percikan api dari baterai lithium polymer yang rusak.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, memaparkan kronologinya berdasarkan keterangan saksi. "Jadi dari keterangan saksi tersebut, bahwa baterai ukuran 30.000 mAh itu, dalam tumpukan ada sekitar empat tumpukan jatuh. Kemudian menurut keterangan saksi, dari sejak jatuh itu kemudian timbul percikan api. Di mana di tempat tersebut juga terdapat baterai-baterai lainnya," ujarnya dalam jumpa pers, Jumat (12/12).

Kondisinya makin parah karena baterai yang rusak itu disimpan sembarangan. Bercampur dengan baterai-baterai lain yang masih layak.

"Selain baterai yang rusak, juga ada baterai-baterai yang sedang dan sebagainya. Kemudian menyambar, hingga akhirnya di lantai 1 itu seluruhnya terbakar. Khususnya di ruang inventory atau gudang mapping, tempat penyimpanan baterai drone lithium polymer," jelas Susatyo.

Intinya, faktor pemicunya jelas. “Kemudian, faktor pemicu langsungnya adalah bahwa baterai LiPo (Lithium Polymer) yang rusak ini, yang ditumpuk tadi, di mana terdapat 6 sampai 7 baterai error atau baterai rusak, bercampur dengan baterai-baterai lainnya,” katanya menyimpulkan.

Gabungan antara desain bangunan yang dianggap 'tumbuh' dan penyimpanan baterai yang ceroboh akhirnya berujung pada tragedi yang memilukan ini.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar