Keamanan data pelanggan jadi isu panas belakangan ini, apalagi sejak aturan registrasi SIM card dengan validasi wajah diterapkan. Nah, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) angkat bicara. Mereka menegaskan, keamanan data biometrik itu terjamin sepenuhnya. Kok bisa?
Menurut Ketua ATSI, Dian Siswarini, kuncinya ada di siapa yang pegang data. Operator seluler, kata dia, sengaja tidak menyimpan data identitas pelanggan di server mereka. "Mungkin salah satu yang penting, masing-masing datanya itu tidak disimpan oleh operator," jelas Dian dalam sebuah wawancara, Selasa (27/1/2026).
Jadi, peran operator cuma sebagai jembatan verifikasi saja. Prosesnya, data wajah dan identitas yang dikumpulkan langsung dialirkan ke sistem kependudukan milik pemerintah, yaitu Dukcapil. Dengan begini, data pribadi tidak tercecer di mana-mana dan privasi lebih terjaga.
"Jadi datanya itu disimpan di Dukcapil karena kami juga harus berhati-hati terhadap data pribadi," tambahnya. "Operator melewatkan saja hanya untuk verifikasi, kemudian data-data tersebut disimpan di database untuk ngecek nomor yang terhubung."
Langkah ini jelas upaya mitigasi. Soalnya, kebocoran data sering bikin masyarakat resah. Dengan menyerahkan penyimpanan sepenuhnya ke Dukcapil, operator berharap standar keamanan nasional bisa lebih optimal melindungi privasi kita semua.
Lalu, apa sih tujuan sebenarnya dari validasi wajah ini? Dian Siswarini bilang, ini bentuk upaya serius untuk tekan kejahatan digital yang makin merajalela.
Dia menuturkan, sistem biometrik diharapkan bisa memangkas masalah keamanan seperti scamming atau penipuan yang kerap pakai nomor seluler. "Terutama masalah dari sisi keamanan, adanya scam kemudian penggunaan identitas yang tidak seharusnya. Nah, dengan adanya biometrik ini kita bisa meminimalisir problem-problem tersebut," kata Dian.
Menurutnya, cara ini jauh lebih efektif ketimbang cuma pakai KTP. Soalnya, biometrik itu unik dan sulit direplikasi. "Karena kalau biometri, kan, enggak mungkin bisa dikloning. Kalau KTP masih bisa fotonya diganti atau bagaimana, tetapi kalau biometrik menggambarkan identitas orang tertentu," ucap dia.
Maka nggak heran, ATSI dan seluruh operator anggotanya mendukung penuh penerapan teknologi ini. "Jadi dari sisi ATSI ini mendukung dan semua operator yang tergabung di ATSI operator seluler itu sudah menerapkan dan sudah mempunyai sistem untuk melakukan registrasi secara biometrik," pungkas Dian.
Jadi, begitulah kira-kira. Upaya berjalan, meski kepercayaan publik tentu masih perlu dibangun perlahan.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun