Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Utara dan Sumatera Utara, upaya pemulihan terus digenjot. Salah satu fokusnya adalah memanfaatkan kayu-kayu hanyutan yang berserakan. Kementerian Kehutanan, dalam aksinya, tak hanya ingin membersihkan lingkungan, tapi juga mengubah material sisa bencana itu menjadi bahan baku untuk hunian sementara warga yang rumahnya rusak.
Di Langkahan, Aceh Utara, aksi besar-besaran dilakukan. Sebanyak 87 personel dikerahkan, didukung puluhan unit alat berat dari berbagai instansi. Mereka fokus memilah kayu yang teronggok di halaman rumah penduduk. Tujuannya jelas: memisahkan mana yang masih layak pakai dari yang sudah rusak total.
Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, timnya bersama Dinas LHK Aceh sudah mengukur ratusan batang kayu. Hingga 8 Januari 2026, tercatat 769 batang dengan volume lebih dari 1.260 meter kubik yang dinilai masih bagus.
"Kayu hanyutan ini kami arahkan langsung untuk mendukung pembangunan hunian sementara dan kebutuhan pemulihan masyarakat,"
kata Subhan, Sabtu lalu.
Hasilnya sudah mulai terlihat. Di Aceh Utara, kayu-kayu itu kini dipakai oleh Rumah Zakat untuk membangun huntara. Sembilan unit sedang dikerjakan, dengan satu di antaranya sudah selesai. Selain itu, kegiatan bersih-bersih juga menyasar sekolah-sekolah, seperti SDN 14 Langkahan, agar aktivitas belajar bisa cepat kembali normal.
Lalu, bagaimana dengan kondisi di Sumatera Utara? Menurut Novita Kusuma Wardani, Kepala BBKSDA setempat, penanganan di desa-desa seperti Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol dilakukan bertahap. Mereka ingin memastikan prosesnya terukur.
"Pemilahan kayu hanyutan hampir rampung dan diarahkan sepenuhnya untuk bahan pembangunan hunian sementara,"
jelas Novita.
Perkembangannya cukup signifikan. Di beberapa titik di Garoga, pemilahan bahkan sudah 100% selesai. Hasil olahan per 8 Januari kemarin menambah ratusan keping kayu siap pakai. Semua material ini rencananya akan dikirim untuk pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Batang Toru.
Namun begitu, kerja mereka tak berhenti di situ. Kegiatan juga merambah ke penataan lingkungan yang lebih luas. Ada proses land clearing untuk persiapan huntara dan bahkan hunian tetap di areal bekas PTPN IV, Desa Aek Pining. Luas rencananya mencapai 15 hektar, dan realisasi pembukaan lahannya sudah melampaui seribu hektar. Sebuah langkah awal yang melelahkan, tapi penting untuk memulai kehidupan baru.
Artikel Terkait
KSPSI Desak Menteri ESDM Segera Atasi Lonjakan Harga Gas Industri, Ancaman PHK Massal Mengintai
WNI Tewas Ditikam Sesama WNI di Hokkaido, Polisi Jepang dan Satu Orang Lain Terluka
Presiden Partai Buruh Said Iqbal Dijadwalkan Dilantik sebagai Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Ancaman Gagal Bayar AS Mengintai jika Rasio Utang Capai 210 Persen, PWBM Beri Peringatan