Tapi anehnya, konflik seperti itu tak pernah terjadi. Rahasianya ternyata sederhana: manajemen limbah yang sangat ketat. Sapi-sapi dimandikan secara rutin, dan kotoran tidak dibiarkan menumpuk sama sekali.
"He'eh kalau kotoran langsung sekali cair. Jadi setiap hari bersihin, mandi aja kan dua kali sehari," jelas sang pengurus tentang rutinitas harian mereka.
Di sisi lain, urusan pakan juga ditangani dengan cara yang cerdas. Mencari rumput di Jakarta yang lahannya sudah habis dibeton? Hampir mustahil. Solusinya, peternakan ini menjalin semacam simbiosis mutualisme dengan sebuah pabrik tahu yang letaknya persis di belakang kandang.
"Pabrik tahunya ini. Itu sama punya juragan juga. Jadi ampasnya enggak ke mana-mana buat makan sapi," ungkapnya.
Limbah tahu itu kemudian diolah menjadi pakan bergizi, dicampur dengan kulit jagung dan kulit kacang. Meski terlihat praktis, biaya operasionalnya tetap harus diperhitungkan dengan cermat. "Kalau berbentuk duit ya sekitar 20 ribu lah satu ekor (sapi)," tambahnya.
Jadi begitulah. Di tengah laju pembangunan yang seakan tak terbendung, masih ada ruang untuk tradisi dan cara-cara lama yang ternyata masih bisa bertahan. Asal dikelola dengan baik dan penuh ketelitian.
Artikel Terkait
Motor Terbakar di Tengah Perempatan Maros, Keluarga Selamat
Iran Ajukan Prasyarat Keras Jelang Pembicaraan dengan AS di Islamabad
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta