Di sisi lain, kekhawatirannya cukup masuk akal. Tayangan yang terus-terusan menampilkan gaya hidup super mewah bisa bikin persepsi masyarakat, khususnya generasi Z, jadi melenceng. Soal hubungan asmara, kesuksesan, dan arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Nah, larangan ini dampaknya langsung terasa. Industri hiburan China sekarang mulai beradaptasi. Alih-alih fokus pada kisah cinta klise, banyak studio beralih ke cerita yang lebih grounded. Misalnya, tentang perjuangan hidup sehari-hari, dinamika keluarga, atau romansa yang lebih realistis.
Memang sih, genre CEO dan si miskin itu menghibur. Tapi pemerintah merasa sudah cukup. Sekarang, penonton mungkin akan disuguhi gambaran cinta dan kehidupan yang lebih nyata, lebih beragam. Perubahannya sedang berjalan. Kita tinggal tunggu, apakah langkah ini bakal diterima penonton atau justru bikin mereka kangen pada fantasà lama.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April