Suasana di Timur Tengah benar-benar memanas. Iran baru saja menempatkan angkatan bersenjatanya pada status siaga tempur tertinggi. Langkah ini jelas sebuah reaksi. Teheran merasa ancaman dari Amerika Serikat dan Israel semakin nyata, sementara di dalam negeri sendiri, gelombang protes rakyat tak kunjung reda.
Menurut laporan Newsweek pada Kamis lalu, Brigadir Jenderal Morteza Ghorbani, penasihat senior Panglima IRGC, mengungkapkan kesiapan itu. Setidaknya 400 unit dari IRGC dan angkatan darat sudah disiagakan. Tujuannya satu: menghancurkan setiap bentuk agresi yang datang.
"Mereka sudah siap. Jika terjadi agresi, mereka akan meratakan Israel dengan tanah. Angkatan darat, IRGC, dan aparat penegak hukum saat ini berdiri dengan tangan berada di atas pelatuk,"
tegas Ghorbani dalam wawancaranya dengan kantor berita Mehr. Peringatannya keras, terutama untuk pihak-pihak yang dianggap ingin mengganggu kedaulatan Iran di saat genting seperti sekarang. Israel sendiri sebelumnya sempat memberi sindiran keras, menyuruh Iran melihat apa yang terjadi di Venezuela.
Kesiapan ini bukan main-main. Semua sistem rudal dalam kondisi waspada penuh, ditambah penguatan di berbagai pangkalan militer strategis. Militer Iran berjanji, setiap tindakan bermusuhan akan dibalas dengan respons yang tegas dan proporsional. Namun begitu, situasi bagi pemerintah Iran sungguh pelik.
Ancaman dari luar datang berbarengan dengan gejolak dalam negeri. Sudah dua pekan lebih, jalanan dipenuhi demonstran yang marah akibat krisis ekonomi dan nilai tukar rial yang anjlok. Di tengah keruhnya situasi ini, peringatan datang dari Washington.
Presiden AS Donald Trump memberi sinyal keras. Ia memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa. Bahkan, Trump tak sungkan mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer AS jika keadaan makin kacau.
Pesan Trump blak-blakan: Iran akan "dipukul dengan sangat keras" jika lebih banyak demonstran yang tewas. Ditambah lagi, dukungan publik Washington kepada PM Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerang program nuklir Iran, membuat Teheran makin cemas. Mereka khawatir sebuah operasi militer gabungan bisa terjadi kapan saja.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, punya narasi sendiri. Dalam pidatonya, ia menuduh para pengunjuk rasa sudah dijadikan alat oleh pihak asing untuk menggerogoti stabilitas negara.
"Kita harus mengenali taktik musuh. Mereka melihat ini sebagai sebuah kesempatan dan berusaha mengeksploitasinya. Tentu saja, pejabat kita sedang bekerja dan bersiap, dan mereka akan terus bersiap. Para perusuh harus ditempatkan di tempat semestinya,"
ujar Khamenei. Meski kepemimpinan Iran didukung oleh institusi militer dan agama yang kuat, kabar burung justru bermunculan. Ada desas-desus soal rencana darurat bagi petinggi negara untuk mengungsi ke Moskow jika keadaan darurat.
Yang bikin Iran makin waspada adalah aksi dramatis AS di Venezuela. Penangkapan Presiden Nicolás Maduro itu menimbulkan ketakutan mendalam di Teheran. Pesannya jelas: Washington tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer untuk menggulingkan pemerintahan yang dianggapnya bermasalah. Dan sekarang, semua mata tertuju ke Iran.
Laporan dari kelompok HAM menyebutkan, bentrokan telah menewaskan lebih dari 20 orang. Ratusan lainnya ditahan setelah aparat membubarkan paksa dengan gas air mata dan penangkapan massal. Situasinya rumit, tegang, dan sama sekali belum terlihat ujungnya.
Artikel Terkait
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer
Obama Tegaskan Tak Ada Bukti Kunjungan Alien ke Bumi Saat Ia Presiden