Di Indonesia, stand-up comedy sudah jadi bagian penting dari dunia hiburan. Ruangnya tumbuh subur. Dan para komika, seperti Pandji Pragiwaksono, sering kali berperan lebih dari sekadar penghibur. Mereka membuka dialog-dialog kritis, menyentuh isu-isu yang kadang dianggap sensitif.
Namun belakangan, Pandji ramai diperbincangkan lagi. Materi stand-up-nya berjudul "Mens Rea" tiba-tiba viral. Yang jadi sorotan adalah bagian yang dianggap menyentuh ranah body shaming. Sebagai seorang yang mengajar ilmu komunikasi, saya tertarik melihat fenomena ini dengan kacamata yang lebih luas.
Humor, jangan salah, punya kekuatan luar biasa sebagai alat komunikasi. Lewat canda, kritik sosial atau politik yang berat bisa disampaikan dengan cara yang lebih ringan. Pendengar jadi lebih terbuka. Pesannya pun sering lebih mudah nyangkut.
Tapi di sisi lain, ada batasan yang harus dijaga. Humor yang etis seharusnya tidak melukai. Dalam kasus "Mens Rea", yang memicu perdebatan adalah komentar tentang penampilan fisik seseorang. Pandji menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat "ngantuk" karena bentuk matanya.
Nah, body shaming ini bukan hal sepele. Ejekan soal fisik, apalagi yang berkaitan dengan kondisi medis, bisa berdampak serius pada psikologis seseorang. Banyak yang merasa tertekan, bahkan trauma.
Kritik pun berdatangan. Salah satunya dari Tompi, dokter sekaligus musisi.
Ia menilai lelucon semacam itu tidak pantas dijadikan bahan tertawaan. Menurutnya, kelopak mata yang tampak turun (ptosis) adalah kondisi medis. Bukan sesuatu yang bisa dikontrol atau disalahkan.
Artikel Terkait
Purbaya Sindir Dana Bencana Menumpuk: Saya Ngambek Kalau Uangnya Tak Dipakai
Pemerintah Siapkan Bantuan Tunai hingga Rp60 Juta untuk Korban Bencana Sumatra
Megawati Sambut HUT PDIP ke-53 dengan Penegasan Partai Penyeimbang
Bantuan Subsidi Upah Rp600 Ribu untuk Guru Madrasah Non-ASN Telah Cair