Pandji dan Batas Humor: Ketika Lelucon Menyentuh Tubuh

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:06 WIB
Pandji dan Batas Humor: Ketika Lelucon Menyentuh Tubuh

Di Indonesia, stand-up comedy sudah jadi bagian penting dari dunia hiburan. Ruangnya tumbuh subur. Dan para komika, seperti Pandji Pragiwaksono, sering kali berperan lebih dari sekadar penghibur. Mereka membuka dialog-dialog kritis, menyentuh isu-isu yang kadang dianggap sensitif.

Namun belakangan, Pandji ramai diperbincangkan lagi. Materi stand-up-nya berjudul "Mens Rea" tiba-tiba viral. Yang jadi sorotan adalah bagian yang dianggap menyentuh ranah body shaming. Sebagai seorang yang mengajar ilmu komunikasi, saya tertarik melihat fenomena ini dengan kacamata yang lebih luas.

Humor, jangan salah, punya kekuatan luar biasa sebagai alat komunikasi. Lewat canda, kritik sosial atau politik yang berat bisa disampaikan dengan cara yang lebih ringan. Pendengar jadi lebih terbuka. Pesannya pun sering lebih mudah nyangkut.

Tapi di sisi lain, ada batasan yang harus dijaga. Humor yang etis seharusnya tidak melukai. Dalam kasus "Mens Rea", yang memicu perdebatan adalah komentar tentang penampilan fisik seseorang. Pandji menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat "ngantuk" karena bentuk matanya.

Nah, body shaming ini bukan hal sepele. Ejekan soal fisik, apalagi yang berkaitan dengan kondisi medis, bisa berdampak serius pada psikologis seseorang. Banyak yang merasa tertekan, bahkan trauma.

Kritik pun berdatangan. Salah satunya dari Tompi, dokter sekaligus musisi.

Ia menilai lelucon semacam itu tidak pantas dijadikan bahan tertawaan. Menurutnya, kelopak mata yang tampak turun (ptosis) adalah kondisi medis. Bukan sesuatu yang bisa dikontrol atau disalahkan.

Sebagai komika, tentu Pandji punya hak berekspresi. Itu jelas. Tapi kebebasan itu harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Humor yang membangun justru yang tidak merendahkan martabat orang lain, melainkan mendorong kita untuk berpikir.

Jenis humor seperti itulah yang sebenarnya punya dampak positif jangka panjang. Bisa menghibur, sekaligus membuka kesadaran. Sebaliknya, lelucon yang menjadikan fisik sebagai bahan olokan justru berisiko mengukuhkan stereotip negatif. Alih-alih memecah kebekuan, malah memperdalam jurang ketidaksetaraan.

Dalam komunikasi, dampak sebuah pesan harus selalu jadi pertimbangan utama. Apa yang lucu bagi satu kelompok, bisa jadi menyakitkan bagi kelompok lain.

Pandji pasti ingin penontonnya tertawa. Tapi ia juga perlu memikirkan batas-batas itu. Humor yang baik, pada akhirnya, adalah humor yang inklusif. Yang menghindari stereotip usang dan justru mempromosikan nilai-nilai positif di masyarakat.

Jadi, intinya sederhana: stand-up comedy perlu menemukan titik seimbang. Antara kebebasan kreatif dan tanggung jawab sosial. Saya yakin komika bisa terus berkarya dan berkembang, asalkan mereka peka terhadap dampak dari setiap kata yang dilontarkan.

Karena humor terbaik bukan cuma yang mengocok perut. Tapi juga yang, dalam diam, mampu mengedukasi dan membangun kesadaran bersama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar