"Apalagi saya. Kalau saya tidak senang, saya samperin. Saya pernah bakar rumah orang di Cengkareng, ya saya bakar saja."
Yang lebih mencengangkan, saat melakukan itu, dampak hukum sama sekali tidak dia pikirkan. Penjara? Itu urusan nanti. Baginya, yang penting tanggung jawab moral sebagai orang Timur terpenuhi: berani berbuat, berani hadir. Bukan membuat teror dari balik bayang-bayang.
"Urusan penjara itu belakangan," tuturnya, menegaskan poinnya. "Jadi bukan sifat kami melakukan teror sembunyi-sembunyi seperti itu."
Pengakuan ini tentu menambah panjang daftar kontroversi yang melekat pada dirinya. Publik sudah mengenal Firdaus Oiwobo sebagai figur yang nyentrik. Beberapa waktu lalu, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dia bahkan sempat naik ke atas meja saat membela kliennya, Razman Arif Nasution. Adegan itu viral, memperkuat kesan tentang seorang pengacara yang tak hanya garang di atas kertas, tapi juga dalam aksi.
Kini, dengan kisah masa lalunya yang terbuka, image itu semakin lengkap. Sebuah potret yang kompleks, di antara prinsip, tindakan ekstrem, dan konsekuensi yang sengaja diabaikan.
Artikel Terkait
Marcell Siahaan Rilis Menuju Cahaya, Single Religi dengan Sentuhan Istri dan Nuansa Elektronik
Selebritas Berparas Bule di Indonesia Kerap Disangka Mualaf, Padahal Muslim Sejak Lahir
Ammar Zoni Kecewa Saksi Kunci Tak Hadir di Sidang Narkoba
Ahmad Dhani Ungkap Kesulitan Ekonomi Saat Antar Anak Sambung Kuliah di AS