Bek itu kan biasanya hidup di bayang-bayang. Kerjanya jelas: bongkar serangan, jaga gawang, dan jarang sekali namanya tercantum di kolom pencetak gol. Tapi stereotip itu tampaknya sedang dihancurkan oleh satu pemain musim ini.
Jordi Amat. Di Persija Jakarta, bek naturalisasi Timnas Indonesia itu diam-diam sedang mencatatkan musim paling produktif dalam hidupnya. Ya, produktif dalam hal mencetak gol. Sebuah rekor pribadi sudah dipecahkannya, dan itu semua terjadi di tengah keraguan yang sempat menyambut kedatangannya.
Ingat saat Macan Kemayoran mendatangkannya dari Johor Darul Ta'zim pertengahan tahun lalu? Banyak yang mengernyit. Usianya sudah kepala tiga, dianggap lewat masa jaya. Meski namanya pernah berkibar di Swansea City, kekhawatiran akan penurunan fisik tetap ada.
Namun sepak bola memang suka mengejutkan.
Jordi justru langsung menjadi tulang punggung. Duetnya dengan Rizky Ridho di jantung pertahanan memberi stabilitas yang jelas. Ia main hampir di semua laga putaran pertama, dan yang menarik, ia mulai menyumbang gol. Sesuatu yang tak biasa dari seorang bek tengah.
Lalu, segalanya berubah di putaran kedua.
Pelatih Mauricio Souza punya ide lain. Jordi tidak lagi ditempatkan sebagai bek tengah murni. Ia ditarik maju, berperan sebagai gelandang bertahan. Keputusan ini ternyata bukan coba-coba. Sebagai ball-playing defender, kemampuan mengatur permainannya justru lebih bersinar dari posisi yang lebih bebas ini.
Efeknya langsung kelihatan. Penampilan solid melawan Madura United, kemudian ia menjadi pemain terbaik saat Persija menang tipis 1-0 di markas Bali United. Tak lupa, gol penting ke gawang Malut United FC.
Gol ketiganya musim ini, yang datang dari sebuah flick header yang cerdas, sekaligus memecahkan rekor pribadinya. Tiga gol! Angka yang biasa bagi striker, tapi sangat istimewa bagi Jordi yang sebelumnya tak pernah mencetak lebih dari dua gol dalam satu musim bahkan saat membela klub Eropa sekalipun.
Dan musim ini belum berakhir. Masih ada kesempatan untuk menambah koleksi.
Di sisi lain, perbincangan tentang bek produktif tentu tak bisa mengabaikan satu nama: Yuran Fernandes.
Sang kapten PSM Makassar ini adalah contoh bek klasik yang mendominasi. Statistiknya bicara keras: 16 gol dan 8 assist dari 107 pertandingan resmi. Angka yang fantastis untuk seorang pemain bertahan.
Lahir di Cape Verde tapi dibesarkan di Portugal, Yuran membawa mentalitas dan kekuatan fisik khas Eropa. Sebelum hijrah ke Makassar pada 2022, ia membuktikan diri di delapan klub berbeda di Portugal. Kini, ia bukan sekadar pemain asing. Ia adalah pemimpin, kapten, dan simbol kebanggaan bagi Juku Eja.
Jadi, kalau kita bandingkan, sebenarnya kita melihat dua gaya kepemimpinan yang berbeda.
Jordi Amat itu tipenya tenang, taktis, lebih mengandalkan kecerdasan membaca permainan. Ia seperti arsitek yang mengatur dari belakang. Sementara Yuran Fernandes lebih garang, dominan di udara, dan menjadi ancaman mematikan setiap kali ada bola mati. Ia adalah benteng sekaligus palu godam.
Lantas, siapa yang lebih baik?
Dari segi konsistensi produktivitas, Yuran masih unggul. Tapi musim 2025/2026 ini adalah cerita tentang kebangkitan Jordi Amat. Ia membuktikan bahwa pengalaman dan kemampuan beradaptasi adalah kombinasi yang berbahaya.
Dengan sisa 11 laga di Super League, satu pertanyaan menggantung: Mungkinkan musim debutnya di Persija justru menjadi musim terbaik sepanjang karier Jordi Amat?
Kalau iya, maka panggung persaingan bek asing paling berpengaruh di Indonesia tak lagi didominasi satu nama. Persaingan diam-diam mereka, baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Nathan Tjoe-A-On Kembali Bermain Usai Kasus Paspor, Willem II Raih Kemenangan
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara
PSSI Siapkan Kompetisi Baru yang Berjalan Paralel dengan Liga Mulai 2026
NAC Breda Ajukan Banding ke Pengadilan Soal Status Paspor Dean James