Tentara Israel Akui Penjarahan dan Perusakan Properti Warga Sipil di Lebanon Jadi Agenda Tersembunyi di Balik Operasi Militer

- Rabu, 03 Juni 2026 | 05:30 WIB
Tentara Israel Akui Penjarahan dan Perusakan Properti Warga Sipil di Lebanon Jadi Agenda Tersembunyi di Balik Operasi Militer

Serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ke Lebanon menyimpan agenda tersembunyi di balik operasi militer yang diklaim sebagai aksi memerangi Hizbullah. Berdasarkan pengakuan sejumlah prajurit cadangan IDF kepada media Israel, Haaretz, tujuan tidak resmi dari misi tersebut adalah penjarahan dan perusakan properti warga sipil.

Praktik penjarahan ini, menurut para prajurit, sudah berlangsung sejak Maret dan semakin meluas dari waktu ke waktu. Seorang prajurit cadangan yang namanya tidak disebutkan menjelaskan kepada Haaretz bahwa pola aksinya selalu sama. “Metodenya selalu sama,” ujarnya, seperti dikutip dari laporan Middle East Eye pada Selasa, 2 Juni 2026.

Para tentara terlebih dahulu menembaki rumah-rumah untuk memastikan tidak ada pejuang Hizbullah di dalamnya. Setelah situasi dianggap aman, mereka baru memulai tujuan sebenarnya: mencari dan mengambil barang-barang berharga milik penduduk setempat.

Barang rampasan yang dijarah beragam, mulai dari karpet, kursi berlengan, sepeda motor, hingga pemanas ruangan. Tidak hanya rumah pribadi, pertokoan pun menjadi sasaran penjarahan. “Bahkan sabun cuci tangan di pos terdepan pun berasal dari Lebanon,” ungkap seorang prajurit lainnya.

Barang-barang yang diklaim sebagai rampasan perang itu akan dibongkar di pos terdepan sebelum dibawa pulang oleh para prajurit ketika masa tugas mereka berakhir. Kabar mengenai perilaku tersebut sudah lama beredar, namun Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, baru membantahnya pada bulan lalu. Zamir menegaskan bahwa jika tuduhan itu terbukti benar, pihaknya akan mengambil tindakan tegas. “Saya tidak mau pasukan kami menjadi pasukan penjarah,” katanya.

Aksi penjarahan ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon yang sudah porak-poranda akibat gempuran militer Israel sejak Maret. Kementerian Kesehatan Lebanon, seperti dikutip Al Jazeera, mencatat 3.412 orang tewas dan 10.269 lainnya terluka hingga kemarin. Sekitar 100.000 warga Lebanon juga telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.

Menurut Adam Raz, seorang sejarawan Israel, penjarahan bukanlah hal baru dalam setiap perang yang dijalankan negaranya. “Yang baru adalah ketidakpedulian total. Pihak komando senior menutup mata, tindak kriminal terus berlanjut, dan kejahatan mencapai tujuannya,” ujarnya.

Di sisi lain, kesaksian para prajurit kepada Haaretz juga mengungkapkan bahwa memerangi Hizbullah bukanlah satu-satunya tujuan utama IDF. Seorang prajurit cadangan lainnya menyebutkan bahwa misi utama militer di Lebanon selatan adalah penghancuran bangunan dan infrastruktur, mulai dari rumah, sekolah, hingga klinik.

Eskalasi serangan Israel ke Lebanon ini memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hal itu terjadi di tengah proses negosiasi antara AS dan Iran yang tengah berlangsung. Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati bersama AS berlaku juga untuk Lebanon. Jika serangan Israel tak berhenti, Teheran menganggapnya sebagai pelanggaran kesepakatan.

“Anda benar-benar gila. Apa yang Anda lakukan?” ujar Trump saat menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Senin, 1 Juni 2026, menurut dua pejabat AS dan sumber ketiga yang dikutip Axios. Trump mengaku juga telah menelepon Hizbullah, kelompok yang berbasis di Lebanon dan terafiliasi dengan Iran. Dia mengklaim bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan pertempuran. “Tidak akan ada pasukan yang pergi ke Beirut dan pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan telah dipulangkan,” paparnya.

Sebelumnya, Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan dialog dengan mediator terkait negosiasi gencatan senjata Iran-AS. Langkah ini merupakan bentuk protes atas perluasan serangan Israel di Lebanon, khususnya terhadap Hizbullah. Namun, setelah pengumuman Trump tersebut, perang masih berlanjut. Kedua belah pihak masih saling serang hingga Selasa pagi. Dalam sebuah pernyataan di X, Netanyahu bahkan mengatakan bahwa ia telah memberi tahu Trump jika Israel akan tetap menyerang Beirut apabila Hizbullah tidak berhenti menyerang mereka.

Sementara itu, Iran telah mengeluarkan peringatan keras bahwa serangan Israel ke Lebanon dan Gaza bisa menggagalkan negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS. “Pelanggaran di satu lini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua lini. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” demikian pernyataan resmi Teheran.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags