Ahli: Konsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Alkohol Berlebihan Picu Kerusakan Hati hingga Kanker

- Rabu, 03 Juni 2026 | 05:15 WIB
Ahli: Konsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Alkohol Berlebihan Picu Kerusakan Hati hingga Kanker

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan hati, berpotensi memicu kerusakan organ yang berujung pada sirosis hingga kanker. Peringatan ini disampaikan oleh para ahli menyusul meningkatnya kekhawatiran akan prevalensi penyakit hati yang dipicu oleh pola hidup tidak sehat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Profesor David Handojo Muljono, menjelaskan bahwa hati merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pusat metabolisme tubuh. Ia menyebut organ ini sebagai ‘pabrik kimia’ terbesar yang bekerja tanpa henti selama 24 jam.

“Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti,” ujar Prof David dalam sebuah talkshow memperingati Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, salah satu penyebab utama kerusakan hati adalah peradangan kronis. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perlemakan hati akibat pola makan tidak sehat dan konsumsi alkohol berlebihan. Peradangan yang terjadi secara terus-menerus akan memicu terbentuknya jaringan parut, atau yang dikenal sebagai fibrosis.

Pada tahap awal, kerusakan hati masih bersifat reversibel atau dapat diperbaiki jika faktor pemicunya segera diatasi. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, fibrosis dapat berkembang menjadi sirosis. Pada kondisi ini, sebagian besar jaringan hati telah rusak dan tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sirosis dapat berkembang menjadi kanker hati atau hepatocellular carcinoma. Prof David menegaskan bahwa ketika penyakit telah mencapai tahap sirosis berat hingga kanker, peluang untuk memulihkan fungsi hati seperti sedia kala sangatlah kecil.

“Kalau sudah sirosis berat sampai kanker hati, umumnya tidak bisa menjadi normal,” tegasnya.

Untuk mencegah kerusakan hati, masyarakat disarankan untuk menjaga pola makan seimbang, membatasi konsumsi makanan tinggi lemak, menghindari minuman beralkohol, serta rutin berolahraga. Selain itu, vaksinasi Hepatitis B dan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan hati dalam jangka panjang.

Prof David menekankan bahwa sebagian besar penyakit hati sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan.

“Semakin dini kelainan ditemukan, semakin besar peluang kesembuhannya,” ujarnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar