Kalimat singkat itu menggambarkan betapa dalam luka yang ia rasakan. Bayangkan saja, tekanan mental dan emosional yang ia alami begitu hebat, hingga pikiran untuk mengakhiri semuanya sempat terlintas. Momen itu, menurut pengakuannya, adalah puncak dari segala rasa sakit dan keputusasaan yang menimpanya.
Namun begitu, ia berhasil bertahan. Apa yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana seseorang bisa berada di tepi jurang, namun menemukan kekuatan untuk melangkah mundur. Tasya tak merinci detail apa yang menahannya saat itu. Tapi jelas, butuh keberanian luar biasa untuk melewati fase tersebut dan akhirnya bisa bercerita.
Kini, setelah semuanya selesai secara hukum, fokusnya bergeser. Kehidupan harus terus berjalan, terutama untuk sang anak. Meski hubungan pernikahan sudah berakhir, komunikasi dengan Ahmad Assegaf tetap dijaga. Alasannya sederhana tapi penting: demi sang buah hati. Mereka berusaha menemukan pola komunikasi yang sehat, memastikan anak tetap mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya meski situasinya sudah berbeda.
Kisah Tasya ini adalah pengingat keras. Di balik glamor dan sorotan lampu, para selebriti juga manusia biasa yang berjuang dengan masalahnya sendiri. Perjalanannya dari genteng yang kelam menuju kelegaan hari ini menunjukkan sebuah ketangguhan. Ia sempat hampir jatuh, tapi akhirnya memilih untuk tetap bertahan.
Artikel Terkait
Dari Luka ke Buku Viral, Aurelie Moeremans Bergerak untuk Hentikan Child Grooming
Tangis Reza Arap dan Pesan Singkat Denny Sumargo di Pemakaman Lula Lahfah
Cover Maira Muthma Bikin Alaina Castillo Terpana: So Good, Oh My!
Di Balik Kemasan Pink, Bahaya Mematikan Gas Whip Pink yang Viral