Relapse Relationship: Mengapa Kembali ke Mantan Bikin Sulit Move On? (Ini Alasannya)

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 10:06 WIB
Relapse Relationship: Mengapa Kembali ke Mantan Bikin Sulit Move On? (Ini Alasannya)
Belum ada judul yang ditambahkan

Relapse Relationship: Mengapa Sulit Move On dan Ingin Kembali ke Mantan?

Setelah putus cinta, seringkali yang paling sulit bukanlah proses berpisahnya, melainkan melawan keinginan untuk kembali. Perasaan ini bisa muncul secara tiba-tiba. Melalui tempat yang pernah dikunjungi bersama, foto-foto lama di media sosial, lagu yang mengingatkan, atau aroma parfum yang familiar. Tanpa disadari, kita masuk ke dalam fase relapse relationship, yaitu menjalin kembali hubungan yang sudah berakhir, bukan karena sudah membaik, tetapi karena belum bisa benar-benar melepaskan.

Alasan di Balik Godaan Kembali ke Mantan

Penelitian dari University of Texas at Austin yang dilakukan oleh René M. Dailey mengungkap bahwa banyak pasangan memutuskan untuk kembali karena masih ada lingering feelings (perasaan yang tertinggal) atau keyakinan bahwa hubungan mereka masih bisa diselamatkan. Hal ini wajar. Tidak semua perpisahan terjadi karena cinta telah hilang. Terkadang, perpisahan dipicu oleh situasi yang rumit, ego, atau kelelahan akibat konflik yang berulang. Saat ada celah untuk kembali, hati seringkali lebih dulu merespons sebelum akal sehat sempat bertindak.

Namun, temuan menarik dari penelitian ini bukan hanya tentang sisa cinta, melainkan tentang keinginan manusia untuk mengendalikan narasi hidupnya sendiri. Relapse relationship kerap muncul dari keinginan untuk memperbaiki akhir cerita yang terasa tidak selesai, meski pada kenyataannya yang didapat seringkali adalah pengulangan dari luka yang sama.

Hubungan Putus Nyambung: Cinta atau Ketergantungan Emosional?

Studi dari University of Missouri menunjukkan bahwa individu dalam hubungan putus-nyambung cenderung mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berada dalam hubungan yang stabil. Kenyataan ini sangat masuk akal. Relapse relationship membuat seseorang terjebak di antara dua keadaan: tidak bersama, tetapi juga belum sepenuhnya berpisah.

Setiap pesan singkat bisa diartikan sebagai harapan, sementara setiap keheningan terasa seperti kehilangan. Pola pikir ini menciptakan ketergantungan emosional. Seringkali, yang kita cari bukanlah orangnya, melainkan rasa aman dan kebahagiaan masa lalu yang familiar, meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak sehat.

Relapse Relationship sebagai “Kambuhnya” Ketergantungan Emosional

Konsep addiction relapse dari riset Leach & Zimmerman (2013) dapat diterapkan dalam konteks hubungan. Kambuhnya keinginan untuk kembali sering dipicu oleh stres emosional dan rasa kesepian. Saat merasa rapuh, kita cenderung mencari pelarian ke hal yang paling dikenal, sekalipun hal itu menyakitkan.

Mantan menjadi semacam “pelipur lara” sesaat yang memberikan kenyamanan instan, meski kita sadar bahwa sumber luka masih ada di sana. Kembali ke mantan tidak selalu menandakan cinta yang masih membara, tetapi bisa jadi merupakan pertanda bahwa kita belum sepenuhnya menerima rasa kehilangan dan takut menghadapi kesendirian.

Ilusi “Cinta Kedua” yang Rapuh dalam Realita

Media dan budaya pop seringkali meromantisasi gagasan “cinta sejati akan kembali”. Banyak film, lagu, dan cerita yang mengajarkan, “jika dia jodoh, dia akan kembali.” Namun, realitanya tidak selalu seindah itu.

Laporan dari Time Magazine (2018) menyatakan bahwa hubungan on-off justru cenderung melelahkan secara emosional karena pola komunikasi dan konflik lama biasanya akan terulang kembali dalam waktu singkat. Cinta saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan perubahan perilaku dan pemahaman yang baru. Hubungan yang dulu rusak karena masalah tertentu berpotensi besar mengalami kerusakan yang sama kali ini dengan beban kekecewaan yang lebih dalam.

Kesimpulan: Belajar Melepaskan dan Menemukan Kedamaian

Relapse relationship adalah bagian dari proses pencarian diri. Fase ini muncul ketika kita masih bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku cukup? Apakah aku masih layak dicintai?”

Namun, pelajaran terpenting adalah memahami bahwa cinta yang sehat tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Jika kembali ke mantan justru membuat kita lebih cemas dan takut daripada bahagia, itu adalah tanda bahwa yang kita alami bukanlah cinta, melainkan keterikatan emosional yang belum selesai.

Melepaskan bukanlah tentang kehilangan seseorang, melainkan tentang merelakan versi diri kita yang dulu hidup bersamanya. Ketika kita mampu memandang hubungan yang telah berlalu bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai pengalaman yang memberi pelajaran, di situlah kita menemukan kebebasan yang sesungguhnya. Relapse bukanlah akhir, melainkan cermin untuk memilih: terus mengulang pola yang sama atau memutuskan untuk menulis babak baru hidup dengan lebih sadar dan mandiri.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar