Panik membeli BBM melanda sejumlah daerah, termasuk di Takengon, Aceh Tengah, Rabu lalu. Antrean kendaraan mengular ratusan meter, sementara warga berduyun-duyun dengan jeriken di tangan. Pemicunya? Kekhawatiran bahwa konflik antara AS, Israel, dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz akan mengganggu pasokan bahan bakar minyak di dalam negeri.
Namun begitu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia angkat bicara. Ia dengan tegas menjamin bahwa stok BBM kita aman dan terkendali. Jadi, kata dia, masyarakat tak perlu resah.
"Enggak perlu ada panik, enggak perlu. Suplai lancar," tegas Bahlil saat dijumpai di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/2/2026).
Ia lalu merinci soal cadangan minyak nasional. Menurut Bahlil, standar minimal yang harus dipegang adalah cadangan untuk 20 hari. Nah, kondisi saat ini justru lebih baik dari angka patokan itu.
"Sekarang cadangan minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman," jelasnya.
Di sisi lain, Bahlil mengakui bahwa kapasitas penyimpanan atau storage kita memang terbatas. Ini bukan hal baru. Sejak dulu, sistem penampungan minyak tanah air hanya didesain untuk memenuhi kebutuhan sekitar 25 hari.
"Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang," ucapnya menerangkan.
Dengan penjelasan itu, ia berharap gelombang kekhawatiran bisa mereda. Situasi di lapangan, kata Bahlil, tetap dalam pengawasan. Jadi, tak ada alasan untuk berburu-buru mengisi penuh tangki atau menimbun BBM dalam jeriken. Semua berjalan normal.
Artikel Terkait
Pertagas Tangani Kebocoran Pipa Gas di Babelan Kurang dari Dua Jam
Pipa Gas Pertagas Bocor di Babelan, Diduga Akibat Proyek Pemasangan Pipa BBM
BMKG Pastikan Gempa Mindanao M 7,7 Bukan dari Zona Megathrust, Tsunami 9-19 Cm Terdeteksi di Tiga Wilayah Indonesia
Presiden Prabowo Lantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Bidang Ketenagakerjaan Senin Besok