Berdiri di tengah keramaian kota, dikelilingi cahaya dan tawa, tapi kok rasanya sunyi sekali? Dunia di luar bergerak cepat, sementara kita seperti terjebak di satu titik. Hanya jadi penonton. Fenomena kesendirian di tengah banyak orang ini bukan cuma soal rasa asing. Ini lebih seperti cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya koneksi-koneksi yang kita bangun.
Di era sekarang, hal ini makin terasa nyata. Coba lihat media sosial. Kita punya ribuan teman dan pengikut, tapi seberapa dalam sih hubungan yang terjalin? Kita gemar membagikan foto atau status, tapi jarang sekali benar-benar berbagi cerita intim. Yang tercipta cuma ilusi kedekatan, yang ujung-ujungnya malah bikin kita merasa terasing. Di ruang publik pun sama saja. Kafe, mal, atau angkutan umum penuh sesak, tapi interaksi yang berarti hampir tak ada. Semua orang sibuk dengan layar ponselnya masing-masing.
“Keramaian bisa menipu, tetapi kesendirian mengajarkan kejujuran.”
Artikel Terkait
Ahli Ungkap Cara Sederhana Tingkatkan Dopamin, dari Makanan hingga Aktivitas Ringan
Dr. Boyke Ingatkan Penurunan Testosteron dan Pentingnya Pola Hidup Sejak Usia 25
Intermittent Fasting untuk Penderita GERD: Bisa Bermanfaat dengan Syarat
Insanul Fahmi Selesaikan Pemeriksaan Polda Metro Jaya, Jawab 30 Pertanyaan