Inilah paradoks zaman kita. Secara teknologi, kita terhubung lebih dari era mana pun. Namun, koneksi emosional justru makin sulit didapat. Tekanan sosial untuk selalu tampak bahagia dan produktif bikin banyak orang memendam rasa sepi mereka sendiri. Alhasil, di tengah kerumunan yang seharusnya hangat, justru muncul perasaan asing yang tak bisa diungkapkan.
Namun begitu, keadaan ini nggak selalu buruk. Justru di tengah riuh rendah itulah kita kadang menemukan ruang untuk merenung. Suara hati yang biasanya tenggelam oleh kebisingan, akhirnya bisa terdengar. Kita jadi paham, kehadiran fisik orang lain belum tentu menghangatkan. Dan keheningan, meski terasa berat, bisa jadi teman yang paling jujur. Kesendirian mengingatkan kita pada satu hal sederhana: manusia butuh lebih dari sekadar like dan komentar. Kita butuh percakapan yang tulus, relasi yang tak dibuat-buat, dan momen di mana kita benar-benar hadir untuk satu sama lain.
Memang, keramaian sering kali menipu. Tapi dari kesendirianlah kita belajar jujur pada diri sendiri. Mungkin, rasa asing itulah yang akhirnya mendorong kita untuk mencari hubungan yang lebih otentik bukan yang cuma hidup di layar, tapi yang benar-benar menyentuh hati. Karena pada akhirnya, keramaian hanyalah gema yang berseliweran. Kesendirianlah yang perlahan mengajarkan kita arti sebuah kehadiran yang sebenarnya.
Artikel Terkait
Pramugari Gadungan Palembang Tertangkap Basah, Batik Air Pilih Damai
Ammar Zoni Bongkar Peredaran Narkoba di Balik Jeruji Rutan Salemba
Bayi Lahir dari Perut, Bukan Rahim: Kisah Kehamilan yang Tak Disadari Seorang Ibu
Nisya, Pramugari Gadungan yang Tertipu, Akhirnya Diamankan di Bandara