Ramadan tiba, dan seperti biasa, kurma kembali jadi primadona. Buah kecil berwarna gelap ini hampir selalu hadir di meja makan saat azan magrib berkumandang. Bukan cuma sekadar tradisi atau ikut-ikutan, loh. Anjuran untuk berbuka dengan kurma memang punya landasan yang kuat, baik dari sisi agama maupun kesehatan.
Nah, kalau ditelisik lebih jauh, ternyata ada alasan ilmiah yang bikin kurma begitu spesial. Menurut sebuah ulasan dalam Review of Religions, International Health Section, kurma itu ibarat paket nutrisi lengkap. Buah ini kaya akan polifenol, sejenis antioksidan yang bisa melawan peradangan dalam tubuh. Berguna banget buat kita yang berpuasa seharian.
Soal rasa manis, jangan langsung khawatir. Kandungan gulanya, yang terdiri dari fruktosa dan glukosa, ternyata lebih rendah dibanding nutrisi lainnya. Yang menarik, gula alami ini justru berperan penting untuk mengembalikan energi yang terkuras setelah belasan jam menahan lapar dan haus. Metabolisme tubuh pun bisa kembali meningkat.
Belum lagi seratnya. Kadar serat dalam kurma cukup untuk membuat perut terasa kenyang lebih lama. Ini penting agar kita tidak kalap menyantap hidangan lain. Di sisi lain, serat yang tidak larut itu juga bagus untuk pencernaan. Ia membantu makanan bergerak lebih lancar di usus, bahkan bisa meringankan sembelit. Beberapa studi menyebut, rutin makan kurma bisa mengurangi waktu feses berada di usus.
Artikel Terkait
Anthropic Tuduh Tiga Perusahaan AI China Curi Data untuk Latih Model
Indonesia dan Arm Jalin Kerja Sama Strategis untuk Kuasai Teknologi Desain Chip
Menhub Proyeksikan Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 18 Maret, Andalkan WFA untuk Sebaran Arus