Jakarta – Rencana pendanaan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) kembali bergulir. Perusahaan ini bersiap menerbitkan surat utang senilai Rp175 miliar. Ini bukan langkah pertama mereka, tapi bagian dari skema pendanaan yang lebih besar.
Berdasarkan prospektus yang beredar, instrumen yang akan ditawarkan adalah Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026. Nilainya persis Rp175 miliar. Kalau dirunut, emisi ini masuk dalam program Penawaran Umum Berkelanjutan yang total targetnya mencapai Rp800 miliar.
Sebelumnya, TOBA sudah lebih dulu menjual obligasi. Tahap I tahun 2025 lalu, mereka berhasil menghimpun Rp125 miliar. Lalu, di Tahap II tahun 2026 ini, mereka mendapatkan Rp500 miliar. Jadi, dengan tahap ketiga ini, mereka hampir menyentuh target akhir.
Soal kualitas, Pefindo memberi peringkat idA untuk obligasi terbaru ini. Sederhananya, ini masuk kategori layak investasi dengan risiko kredit yang relatif rendah. PT Sucor Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana, sementara PT Bank Mega Tbk (MEGA) akan bertindak sebagai wali amanat.
Nah, untuk detail teknisnya, obligasi ini ditawarkan dengan nilai 100% dan dijamin secara penuh. Bunganya tetap, yakni 9% per tahun. Jangka waktunya cukup panjang, tujuh tahun sejak tanggal emisi.
Cara pembayarannya menarik. Pokok utangnya akan dilunasi sekaligus di akhir masa jatuh tempo, tepatnya pada 13 Mei 2033. Sistem bullet payment seperti ini memang umum. Sementara untuk bunganya, akan dibayar setiap tiga bulan sekali.
Lalu, uang sebesar Rp175 miliar itu mau dipakai buat apa? Menurut rencana, dana hasil penerbitan setelah dipotong biaya emisi akan dialokasikan untuk modal kerja. Cakupannya luas, mulai dari gaji karyawan, sewa dan perawatan kantor, sampai keperluan korporasi umum lainnya. Intinya, untuk mendukung kebutuhan operasional sehari-hari perusahaan.
Namun begitu, kondisi keuangan TOBA tahun lalu patut jadi catatan. Laporan mereka menunjukkan pendapatan turun 14,7% menjadi US$380,22 juta atau sekitar Rp6,35 triliun. Yang lebih berat, mereka mencatatkan rugi bersih hingga US$162 juta (sekitar Rp2,7 triliun).
Kerugian itu tak lepas dari dua faktor utama. Pertama, tentu saja tekanan dari harga batu bara global yang melemah sepanjang 2025. Kedua, ada beban non-kas yang cukup signifikan, mencapai US$97 juta, akibat divestasi aset PLTU. Langkah divestasi ini sendiri merupakan bagian dari transformasi perusahaan menuju bisnis rendah karbon.
Jadi, di tengah upaya transformasi dan kondisi pasar yang menantang, penerbitan obligasi tahap ketiga ini menjadi langkah krusial bagi TOBA untuk menjaga likuiditas dan melanjutkan operasional usahanya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Dorong Pemerintah Perkuat Beasiswa dan Optimalisasi CSR untuk Pendidikan Vokasi
Remaja 19 Tahun Perkosa dan Bunuh Siswi SD di Makassar, Polisi Sebut Aksi Sudah Direncanakan
Jadwal Imsak, Buka Puasa, dan Salat di Jakarta Hari Ini, Kamis 28 Mei 2026
AMPI Salurkan Daging Kurban ke Warga Jakarta, Wujud Kepedulian Sosial Pemuda