Ketegangan di Selat Hormuz dan Serangan Israel Picu Lesunya Pasar Saham Asia

- Kamis, 09 April 2026 | 10:20 WIB
Ketegangan di Selat Hormuz dan Serangan Israel Picu Lesunya Pasar Saham Asia

Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, punya pandangan jelas soal ini.

"Risiko kenaikan harga minyak masih jauh lebih besar ketimbang potensi penurunannya, selama Selat Hormuz tetap tertutup," ujarnya.

Dia menambahkan, pergerakan harga ke depan sangat bergantung pada tiga hal: apakah gencatan senjata bisa bertahan, kapan lalu lintas pelayaran kembali normal, dan seberapa cepat rantai pasok energi bisa pulih.

Sentimen berat ini langsung tercermin di papan-papan bursa regional. Mayoritas indeks Asia bergerak di zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang, misalnya, turun 0,46 persen padahal sebelumnya sempat melonjak. Kospi Korea Selatan melemah lebih dalam, 1,20 persen.

Hang Seng Hong Kong turun 0,35 persen. Di Tiongkok daratan, Shanghai Composite terkoreksi 0,55 persen. Straits Times Singapura juga ikut merosot 0,37 persen.

Mata uang kawasan pun tak luput dari tekanan. Mereka cenderung melemah terhadap dolar AS. Pasar sepertinya menilai kesepakatan gencatan senjata masih belum jelas benar, apalagi dengan arus pelayaran di Selat Hormuz yang kembali tersendat.

Dolar AS menguat sekitar 0,2 persen terhadap yen Jepang. Terhadap won Korea Selatan, greenback naik 0,25 persen.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar