Kinerja PT Surya Semesta Internusa (SSIA) tahun lalu memang tak secemerlang sebelumnya. Penyebabnya? Bisnis properti, khususnya penjualan lahan di kawasan industri, mengalami penurunan yang cukup signifikan. Padahal, tahun sebelumnya penjualan di Subang, Jawa Barat, sempat melesat berkat kehadiran pabrik BYD.
Secara keseluruhan, pendapatan konsolidasi perseroan anjlok 30 persen menjadi Rp4,43 triliun. Tapi yang paling terpukul adalah segmen properti. Pendapatannya terjun bebas 71 persen, dari Rp2,26 triliun menjadi hanya Rp665 miliar.
Manajemen SSIA pun angkat bicara.
"Penurunan ini terutama disebabkan oleh perubahan dalam pengakuan penjualan lahan secara akuntansi serta keputusan investor yang lebih berhati-hati," jelas mereka dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Rinciannya, anak usahanya, PT Suryacipta Swadaya (SCS), hanya berhasil menjual 46,9 hektare lahan sepanjang 2025. Nilainya Rp899,4 miliar. Bandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 162,4 hektare senilai Rp2 triliun. Itu artinya ada penurunan drastis sebesar 71 persen.
Faktornya cukup jelas. Transaksi besar dengan BYD di Subang Smartpolitan itu sifatnya one-off, sekali jadi. Setelah itu, angin pun berubah. Meski begitu, backlog atau pesanan tertunda penjualan lahan SCS masih tersisa 58,7 hektare senilai Rp964,1 miliar.
Tak cuma properti, bisnis perhotelan SSIA juga ikut merasakan dampaknya. Pendapatannya terpangkas setengahnya, menjadi Rp500,8 miliar. Tapi penurunan ini agak berbeda sebabnya. Utamanya karena renovasi besar-besaran di Hotel Paradisus by Melia Bali (dulu Melia Bali Hotel) yang sedang berlangsung.
Di tengah tekanan itu, ada satu segmen yang masih menunjukkan taring. Konstruksi, yang dijalankan melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), tumbuh moderat 7,2 persen dengan pendapatan mencapai Rp3,6 triliun.
Artikel Terkait
Sari Roti Bagikan Dividen Rp450 Miliar, Yield Capai 10,6%
Pemprov DKI Beri Potongan Pajak 20% untuk Sektor Kuliner dan Perhotelan
Black Diamond Resources (COAL) Merambah Bisnis Maritim dengan Bentuk Anak Usaha
Pemerintah Klaim Pelemahan Rupiah ke Rp17.100 Masuk dalam Skenario Simulasi