Situasinya benar-benar cair. Pasar harus jeli memantau perkembangan di hari-hari awal pekan ini. Mungkin saja ada kesepakatan dadakan yang memungkinkan kapal tanker melintas lagi, atau justru serangan yang malah memperkeruh suasana.
Di sisi lain, WTI dapat perhatian ekstra karena tensi antara AS dan Iran yang makin memuncak. Minyak AS ini bahkan sempat ditutup di atas USD112 per barel, dan sudah melonjak lebih dari 104 persen dari titik terendah tahun ini. Minat terbuka di kontrak berjangka juga terus merangkak naik, tanda spekulan ramai-ramai masuk.
Tekanan geopolitik makin kuat setelah Presiden AS, Donald Trump, memberi ultimatum 10 hari kepada Iran yang tenggat waktunya berakhir di awal pekan ini. Trump menegaskan kemungkinan serangan ke infrastruktur vital Iran. Sementara itu, laporan Reuters menyebut Israel sudah siap melakukan operasi militer setelah dapat lampu hijau dari Washington.
Iran sendiri tak tinggal diam. Mereka dikabarkan mengancam akan balik menyerang infrastruktur energi di kawasan, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Israel. Targetnya bisa saja jalur-jalur energi utama yang jadi urat nadi pasokan global.
Bayangkan kalau Selat Hormuz sampai ditutup. Ditambah potensi gangguan di Laut Merah yang menyumbang sekitar 12 persen pasokan minyak dunia, risiko lonjakan harga jadi makin nyata. Semua faktor ini bikin pasar energi waspada setinggi-tingginya.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 0,77% di Awal Pekan, Mayoritas Saham Terpuruk
IHSG Anjlok 0,77% ke Level 6.972, Mayoritas Saham Tertekan
Peneliti Peringatkan Indonesia Terancam Jebakan Ketidaktampakan Strategis di Tengah Gejolak Global
Harga Emas Naik 4% Pekan Lalu, Pasar Waspada Jelang Data Ekonomi AS