IHSG Anjlok 1,25% Diterpa Sentimen Serangan AS ke Iran

- Kamis, 02 April 2026 | 12:50 WIB
IHSG Anjlok 1,25% Diterpa Sentimen Serangan AS ke Iran

Pasar saham Indonesia babak belur di sesi pertama perdagangan Kamis (2/4/2026). IHSG ambles lebih dari satu persen, ikut arus sentimen negatif yang melanda kawasan Asia. Pemicunya? Lagi-lagi, ketegangan di Timur Tengah yang tiba-tiba memanas kembali.

Data dari BEI menunjukkan indeks komposit merosot 1,25% ke posisi 7.094,53. Kerusakannya cukup luas: 463 saham terkapar, hanya 234 yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 261 lainnya diam di tempat. Kalau dilihat dari pergerakan yang lebih panjang, kondisinya makin suram. Dalam sepekan, IHSG sudah anjlok 2,84%. Bahkan, dalam sebulan terakhir, koreksinya mencapai hampir 14 persen. Tekanan jual datang dari mana-mana, terutama dari saham-saham raksasa seperti Barito, Bakrie, Merdeka, dan perbankan besar yang serentak memerah.

Lalu, apa yang bikin pasar ciut nyali? Semuanya berawal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut laporan Dow Jones Newswires, dalam sebuah pidato, Trump memberi sinyal serangan militer lanjutan ke Iran. Dia menyebut operasi itu sebagai "investasi masa depan" bagi rakyat AS, dan memprediksi konflik bisa berakhir dalam sebulan meski ancaman eskalasi tetap menggantung.

Pernyataan itu langsung memukul pasar. Sentimen de-eskalasi yang sempat muncul sebelumnya seolah dibatalkan begitu saja. Analis Westpac menilai ancaman serangan final yang lebih tegas kini kembali ke permukaan. Akibatnya, bursa-bursa Asia langsung berbalik arah. Nikkei Jepang jatuh 2,3%, Kospi Korea Selatan bahkan terpental 4,4%, dan Hang Seng Hong Kong ikut merosot.

Efek domino-nya jelas terlihat pada harga komoditas. Minyak yang sempat melunuh di bawah USD100 per barel, tiba-tiba melonjak lagi. WTI naik 4,5% ke level USD104,61, sementara Brent menguat lebih ganas, 5,4% ke USD106,60. Kenaikan harga energi ini tentu bikin investor khawatir. Mereka takut pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan bakal terhambat.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar