Beberapa analis mulai memberi peringatan. Nomura, misalnya, menyarankan ekstra hati-hati untuk saham India. Untuk Indonesia dan Filipina, risikonya juga meningkat, meski dianggap lebih ringan. Di sisi lain, pasar seperti Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai punya daya tahan yang sedikit lebih baik.
BRI Danareksa melihat situasi ini menciptakan sinyal campuran. Ketidakpastian arah konflik dan pergerakan pasar ke depan jadi makin tinggi. Tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi ujungnya.
Menariknya, saat minyak melonjak, logam mulia justru ikut terpuruk. Emas spot turun 1,6%, perak bahkan anjlok 3,8%. Dolar AS menguat terhadap mata uang Asia, mencerminkan sikap hati-hati yang mendalam di kalangan pelaku pasar.
Tekanan itu ternyata belum berakhir. Prakiraan untuk pasar AS juga suram: kontrak berjangka S&P 500, Nasdaq, dan Dow semuanya bergerak negatif, mengisyaratkan bahwa tekanan global kemungkinan masih akan berlanjut di sesi-sesi mendatang. Suasana pasar benar-benar gamang.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
PSSI Rencanakan Buyback Saham Senilai Rp 50 Miliar Mulai 2026
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis
Pasar Valas Antisipasi Pidato Trump Soal Gencatan Senjata Teluk