Harga saham PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) benar-benar terpuruk. Sejak awal tahun 2026, grafiknya cuma satu arah: turun. Lebih dari 60 persen nilai sahamnya menguap begitu saja, didorong aksi jual yang dilakukan secara bertahap oleh pengendali barunya.
Rabu lalu, saham KRYA ditutup di level Rp54 per lembar. Kapitalisasi pasarnya pun tinggal Rp90 miliar. Anjloknya harga ini bukan cuma soal sentimen pasar yang buruk. Ada faktor lain yang lebih konkret, yaitu divestasi yang dilakukan oleh entitas-entitas yang terafiliasi dengan si pengendali.
William Teng, melalui PT Green Power Group Tbk (LABA) dan Green City Pte Ltd, disebut-sebut aktif melepas saham sepanjang kuartal pertama tahun ini. Aksi jualnya beruntun. LABA saja disebutkan telah jual saham sampai 15 kali, hingga kepemilikannya di KRYA tersisa 8,94 persen. Posisi Green City juga menciut, tinggal 9,75 persen.
Nah, ketika dua entitas yang terafiliasi ini sama-sama mengurangi porsi sahamnya, ini jadi sinyal yang serius. Pola seperti ini, dalam banyak kasus, sering mengindikasikan strategi keluar secara perlahan. Istilah kerennya, exit liquidity.
Di tengah aksi jual itu, ada satu nama yang diam. Dharmo Budiono, yang sebelumnya dikenal sebagai pengendali KRYA, tercatat masih mempertahankan sahamnya di atas 5 persen dan tak ikut-ikutan jual sepanjang tahun ini. Situasi ini bikin banyak yang bertanya-tanya: sebenarnya siapa yang pegang kendali KRYA sekarang?
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis
Pasar Valas Antisipasi Pidato Trump Soal Gencatan Senjata Teluk
Harga Emas Melonjak 1,95% Didorong Pelemahan Dolar dan Isu De-eskalasi Timur Tengah