Saham KRYA Anjlok Lebih dari 60%, Didorong Aksi Jual Pengendali Baru

- Kamis, 02 April 2026 | 05:40 WIB
Saham KRYA Anjlok Lebih dari 60%, Didorong Aksi Jual Pengendali Baru

Harga saham PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) benar-benar terpuruk. Sejak awal tahun 2026, grafiknya cuma satu arah: turun. Lebih dari 60 persen nilai sahamnya menguap begitu saja, didorong aksi jual yang dilakukan secara bertahap oleh pengendali barunya.

Rabu lalu, saham KRYA ditutup di level Rp54 per lembar. Kapitalisasi pasarnya pun tinggal Rp90 miliar. Anjloknya harga ini bukan cuma soal sentimen pasar yang buruk. Ada faktor lain yang lebih konkret, yaitu divestasi yang dilakukan oleh entitas-entitas yang terafiliasi dengan si pengendali.

William Teng, melalui PT Green Power Group Tbk (LABA) dan Green City Pte Ltd, disebut-sebut aktif melepas saham sepanjang kuartal pertama tahun ini. Aksi jualnya beruntun. LABA saja disebutkan telah jual saham sampai 15 kali, hingga kepemilikannya di KRYA tersisa 8,94 persen. Posisi Green City juga menciut, tinggal 9,75 persen.

Nah, ketika dua entitas yang terafiliasi ini sama-sama mengurangi porsi sahamnya, ini jadi sinyal yang serius. Pola seperti ini, dalam banyak kasus, sering mengindikasikan strategi keluar secara perlahan. Istilah kerennya, exit liquidity.

Di tengah aksi jual itu, ada satu nama yang diam. Dharmo Budiono, yang sebelumnya dikenal sebagai pengendali KRYA, tercatat masih mempertahankan sahamnya di atas 5 persen dan tak ikut-ikutan jual sepanjang tahun ini. Situasi ini bikin banyak yang bertanya-tanya: sebenarnya siapa yang pegang kendali KRYA sekarang?

Ketidakjelasan itu makin menjadi. Menariknya, data dari sistem Ditjen AHU Online pasca Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di Januari lalu, masih menunjukkan komposisi pemegang saham lama. Jadi, datanya nggak nyambung antara catatan pasar modal dan administrasi hukum perusahaan. Hal ini jelas menimbulkan ketidakpastian soal struktur kepemilikan dan jadi lampu kuning untuk investor, terutama menyangkut transparansi dan tata kelola.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana, yang juga founder Republik Investor, angkat bicara. Menurutnya, kombinasi antara penurunan harga yang dalam, aksi jual oleh pihak terafiliasi, dan ketidaksinkronan data adalah paket risiko yang berbahaya.

Dalam teori pasar, kondisi mirip KRYA ini kerap terjadi pada fase distribusi. Fase di mana pemegang saham utama pelan-pelan cuci tangan, melepas kepemilikannya ke pasar. Biasanya, fase ini diwarnai volatilitas tinggi dan penurunan harga yang tajam. Investor ritel sering kali yang jadi korban, tergiur masuk saat harga terlihat murah, padahal risiko fundamental dan tata kelola perusahaan justru sedang memburuk.

“Dalam kondisi seperti ini, prinsip utama investor seharusnya bukan mengejar potensi rebound jangka pendek, melainkan lebih kepada melindungi modal dan menunggu kejelasan struktur pengendali serta transparansi informasi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi,” jelas Hendra.

Intinya, pelaku pasar diminta untuk ekstra waspada. Lakukan due diligence lebih mendalam. Jangan mudah tergoda melihat harga turun sebagai peluang beli, karena saham yang ambruk akibat masalah kepemilikan dan tata kelola seperti ini biasanya butuh waktu sangat lama untuk bisa bangkit kembali.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar