Tapi ceritanya jadi lain kalau kita lihat sisi impor. Di sini, angkanya justru melesat naik 14,44 persen menjadi 42,09 miliar dolar AS. Kenaikan tajam ini terutama berasal dari impor nonmigas, yang naik lebih dari 17 persen. Menariknya, impor migas justru turun 3,5 persen.
Lalu, barang apa saja yang lebih banyak kita impor? Ternyata semuanya naik. Mulai dari barang modal yang melonjak drastis 34,44 persen, bahan baku, hingga barang konsumsi. Ini bisa jadi sinyal permintaan industri yang masih kuat, meski perlu dicermati lebih lanjut.
Dan lagi-lagi, China mendominasi. Negeri Tirai Bambu itu menjadi sumber utama impor nonmigas kita dengan porsi sangat besar, 42,46 persen. Australia dan Singapura menyusul di belakangnya, meski dengan nilai yang jauh lebih kecil.
Jadi, dari mana sebenarnya surplus 5,42 miliar dolar AS di sektor nonmigas itu berasal? Lima komoditas jadi penyokong utamanya. Peringkat pertama diduduki oleh lemak dan minyak hewan/nabati dengan surplus hampir 6,5 miliar dolar AS. Disusul oleh bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel, serta alas kaki yang masing-masing menyumbang miliaran dolar AS.
Secara keseluruhan, performa perdagangan kita di awal 2026 ini cukup solid. Rekor 70 bulan surplus adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Tapi, ketergantungan pada sektor nonmigas dan defisit migas yang masih membayangi, jelas menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168