Produksi logam pun ikut terpukul. Tembaga yang dihasilkan tercatat 209 juta pon, turun 47 persen. Sementara produksi emas hanya 102.758 ons, atau merosot tajam 87 persen dari periode sebelumnya.
Meski begitu, transaksi penjualan di kuartal IV terlihat cukup solid. Arief menyebut, perseroan berhasil menjual 151.353 metrik ton kering konsentrat tembaga pada periode itu, dengan kandungan 69 juta pon tembaga dan 55.402 ons emas.
Di lini hilir, ada progres yang patut dicatat. Produksi katoda tembaga dari smelter mereka mulai mengalir di akhir Maret 2025. Sepanjang tahun, total produksinya mencapai 79.849 ton. Sementara produksi emas murni dari fasilitas pemurnian (PMR) dimulai pertengahan Juli, dan berhasil menghasilkan 124.723 ons di sisa tahun.
Ke depan, Arief memastikan fokus perusahaan adalah menstabilkan kinerja smelter agar berkelanjutan di 2026. Beberapa proyek ekspansi besar, seperti PLTGU, fasilitas regasifikasi LNG, dan perluasan pabrik konsentrator, juga diklaim masih berjalan sesuai jadwal.
Jadi, meski tahun lalu penuh tantangan, Amman Mineral tampaknya sedang membenahi diri. Mereka berharap fase transisi yang sulit ini segera terbayar dengan kinerja yang lebih kokoh di tahun-tahun mendatang.
Artikel Terkait
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo