PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) menutup tahun 2025 dengan catatan yang cukup gemilang. Laba bersih perusahaan itu melesat ke angka Rp218,85 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang solid, sekitar 22,48 persen, jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp178,69 miliar.
Pemicu utamanya tentu saja dari sisi penjualan. Sepanjang tahun lalu, DGWG berhasil meraup pendapatan hingga Rp4,15 triliun. Ini adalah rekor volume tertinggi yang mereka catat, dengan kenaikan yang cukup tajam, 23,15 persen, dari tahun sebelumnya yang Rp3,37 triliun.
Menariknya, pertumbuhan ini bukan datang dari satu segmen saja. Menurut laporan mereka, kenaikan volume penjualan terjadi merata di semua lini bisnis. Mulai dari agrokimia, pupuk, sampai alat-alat pertanian. Hal ini sekaligus mempertegas peran perusahaan dalam menjaga pasokan sarana produksi faktor krusial bagi produktivitas petani nasional.
Direktur Utama DGWG, David Yaory, menyoroti capaian ini sebagai buah dari kerja keras yang konsisten.
“Kami memandang kinerja tahun 2025 sebagai hasil dari konsistensi Perseroan dalam menjaga ketersediaan dan kualitas produk bagi sektor pertanian di tanah air. Ke depan, Perseroan akan tetap berfokus pada penguatan fundamental bisnis serta memastikan relevansi produk dengan kebutuhan petani, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,”
ujar David dalam rilis resmi yang diterbitkan Rabu (25/3/2026).
Di sisi lain, ada faktor lain yang turut mendongkrak angka-angka tersebut. Danny Jo Putra, Direktur DGWG, menambahkan bahwa pengelolaan operasional yang ketat juga punya andil besar.
Baginya, pertumbuhan keuangan 2025 ini mencerminkan upaya perusahaan menyeimbangkan antara ekspansi usaha dan efisiensi di lapangan.
“Perseroan akan terus mengelola bisnis secara prudent agar dapat menjaga keberlanjutan kinerja di tengah berbagai tantangan yang ada,”
tandas Danny.
Sebagai pemain dalam ekosistem agro input nasional, DGWG tampaknya tak mau berpuas diri. Mereka berjanji akan menjaga momentum pertumbuhan ini, tapi dengan tetap memerhatikan aspek keberlanjutan dan kontribusi nyata bagi pertanian. Penguatan distribusi, ketersediaan produk, dan efisiensi operasional diyakini sebagai kunci untuk mendukung ketahanan pangan.
Jadi, apa rencana ke depannya? Strateginya kurang lebih akan berlanjut: tingkatkan volume, perkuat distribusi, dan kejar efisiensi operasional. Semua itu akan dijalankan dengan pendekatan terukur dan tentu saja, berkelanjutan.
(kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Gubernur The Fed Christopher Waller Serukan Penghapusan Bias Pelonggaran, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Danantara Resmi Bentuk Perusahaan Dagang Ekspor Komoditas, Mulai Operasi Juni 2026
Gaji TKI di Jepang Capai Rp55 Juta per Bulan, Ini Rincian dan Potongannya
BRI dan Unsoed Resmi Luncurkan Program Desa BRILiaN 2026 untuk Transformasi Desa Berbasis Teknologi