Laba bersih PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terjun bebas. Sepanjang 2025, emiten tambang ini hanya membukukan laba bersih USD 258 juta, atau sekitar Rp 4,39 triliun. Angka itu terpaut jauh dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai USD 642 juta. Penurunannya nyaris 60 persen.
Penyebabnya? Kombinasi dari larangan ekspor konsentrat dan proses ramp-up smelter yang masih berjalan. Pendapatan perusahaan pun ikut merosot 31 persen, dari USD 2,66 miliar di 2024 menjadi USD 1,847 miliar tahun lalu.
Direktur Utama Amman Mineral, Arief Sidarto, mengakui tahun 2025 adalah masa transisi yang berat.
Namun begitu, ada secercah cahaya di ujung terowongan. Menurut Arief, perbaikan mulai terlihat di kuartal akhir tahun. Saat itu, AMMN akhirnya mendapat izin ekspor konsentrat dengan kuota 480.000 metrik ton kering, berlaku untuk enam bulan. Izin ini memberi ruang bernapas selama fase ramp-up smelter berlangsung.
Di sisi lain, aktivitas penambangan Fase 8 memang sudah dimulai. Volume bijih segar yang digali melonjak 60 persen, sayangnya kadarnya lebih rendah ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Imbasnya, produksi konsentrat tahun 2025 anjlok 41 persen secara tahunan, hanya 446.563 metrik ton kering.
Artikel Terkait
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
Laba Bersih DGWG Tembus Rp218,85 Miliar di 2025, Didongkrak Pendapatan Rekor
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo