Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Podium Perdana Indonesia di Moto3

- Rabu, 25 Maret 2026 | 18:30 WIB
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Podium Perdana Indonesia di Moto3
Veda Ega Pratama: Wonderkid Gunungkidul yang Guncang Moto3

Jakarta. Ada nama baru yang terus disebut-sebut dalam percakapan para penggemar balap motor tanah air: Veda Ega Pratama. Pemuda asal Gunungkidul ini bukan cuma sekadar muncul. Ia meledak, menorehkan sejarah di ajang Moto3 2026 dan membuat kita semua menahan napas. Julukan "Wonderkid" yang disematkan padanya, rasanya, bukan lagi sekadar pujian kosong.

Namun begitu, kesuksesannya di lintasan internasional itu bukanlah sebuah keajaiban yang turun tiba-tiba. Kalau ditelusuri, itu adalah buah dari dedikasi yang panjang dan jujur saja darah balap yang mengalir deras dalam keluarganya. Inilah beberapa fakta menarik di balik sosok Veda, mulai dari akar keluarganya hingga impian besarnya yang membara.

Bakat Itu Turunan

Jelas, bakat Veda tidak jatuh dari langit. Ia adalah putra Sudarmono, mantan pembalap nasional yang namanya cukup disegani di kelas Supersport 600cc, baik di kejuaraan dalam negeri maupun Asia. Sejak kecil, Veda sudah terbiasa dengan bau oli dan deru mesin. Melihat ayahnya berlatih dan berlaga, rupanya menjadi pemantik awal ketertarikannya pada dunia yang penuh adrenalin ini.

Masa Kecil di "Sirkuit" Pasar Sapi

Ini mungkin bagian yang paling membumi dari ceritanya. Sebelum merasakan aspal mulus sirkuit Eropa, Veda kecil justru mengasah kemampuannya di tempat yang tak terduga: lapangan parkir Pasar Sapi Siyono, Gunungkidul. Di bawah bimbingan sang ayah, ia belajar menaklukkan motor mulai dari yang 50cc. Bayangkan, di sebuah area yang jauh dari gemerlap, bakat seorang calon bintang justru ditempa.

Sejarah di Brasil

Tanggal 22 Maret 2026 akan diingat sebagai momen bersejarah. Di Sirkuit Internasional Ayrton Senna, Goiania, Brasil, Veda Ega Pratama menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di ajang Grand Prix kelas Moto3! Ia finis di posisi ketiga.

Perjalanannya menuju podium itu penuh drama. Sempat terlempar ke posisi ke-10, balapan bahkan sempat dihentikan karena insiden (red flag). Tapi setelah restart, Veda tampil beda. Agresif. Di lap terakhir, ia menyodok dan berhasil menyalip Alvaro Carpe, mengamankan tempat ketiga di belakang Maximo Quiles dan Marco Morelli. Sebuah perlawanan yang sungguh memukau.

Banjir Apresiasi dari Tanah Air

Prestasinya langsung disambut euforia. Sebagai bentuk kebanggaan, berbagai apresiasi "sultan" pun mengalir untuknya.

Pengusaha otomotif Haji Putra Rizky, misalnya, secara terbuka menjanjikan satu unit mobil untuk Veda.

Tak hanya itu, bonus uang tunai sebesar Rp25 juta juga ia terima dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari pengusaha ternama Gilang Widya Pramana, yang akrab disapa Juragan 99.

Pemimpin Para Pendatang Baru

Berkat finis kelima di Thailand dan podium ketiga di Brasil, Veda kini mengumpulkan 27 poin. Yang lebih membanggakan, ia kokoh memimpin klasemen sementara Rookie of the Year (Pendatang Baru Terbaik) Moto3 2026. Pesaing terdekatnya, Brian Uriarte, tertinggal cukup jauh dengan 14 poin. Posisi ini membuktikan satu hal: Veda bukan figuran. Ia ancaman nyata di grid Moto3.

Idola dan Mimpi di Puncak

Siapa inspirasinya? Veda mengaku mengidolakan legenda MotoGP, Casey Stoner. Gaya balap Stoner yang agresif dan penuh semangat itulah yang coba diteladaninya. Maka tak heran jika media internasional mulai memanggilnya "The Young Lion" atau Singa Muda.

Dan cita-citanya jelas: menjadi pembalap Indonesia pertama yang bisa berkompetisi penuh dan siapa tahu mengangkat trofi juara dunia di kelas utama MotoGP. Mimpi yang tinggi, tapi kini terasa lebih dekat.

Lanjut ke Texas

Setelah gemuruh di Brasil, perjalanan berlanjut. Veda kini bersiap menghadapi tantangan di Sirkuit Americas (COTA), Texas, Amerika Serikat, pada akhir Maret 2026 nanti. Dengan mental pemenang dan dukungan yang kian solid, Veda Ega Pratama bukan cuma sekadar pembalap. Ia telah menjadi mercusuar harapan baru bagi olahraga motor Indonesia di kancah global.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar