Dosen Perempuan Tewas Bugil di Kamar Hotel, Didampingi Perwira Polisi

- Rabu, 19 November 2025 | 03:36 WIB
Dosen Perempuan Tewas Bugil di Kamar Hotel, Didampingi Perwira Polisi
Berita Kematian Dosen

Seorang dosen perempuan perguruan tinggi swasta di Kota Semarang, Dwinanda Linchia Levi (35), ditemukan tewas dalam kondisi tanpa busana di sebuah kamar hotel di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, pada Senin (17/11). Seorang pria berinisial B, yang belakangan diketahui berstatus sebagai perwira polisi, berada di lokasi kejadian.

Tidak Ada Tanda Kekerasan Awal

Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena, menyatakan bahwa dari pemeriksaan visum luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jenazah Levi. Meski demikian, pihak kepolisian tetap akan melakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya. "Kita lihat hasilnya nanti," ujar Andika.

Pria di Kamar adalah Perwira Polisi

Pria yang ditemukan bersama jenazah Levi terungkap sebagai Basuki (56), seorang polisi berpangkat AKBP yang menjabat sebagai Kasubdit Dalmas Ditsamapta Polda Jawa Tengah. Basuki mengaku telah mengenal Levi sejak korban menempuh pendidikan doktoral.

"Saya teman dekatnya, kenal sejak Levi kuliah S3. Sekarang sudah doktor dia, sudah mau profesor malah," kata Basuki melalui sambungan telepon, Selasa (18/11).

Basuki menjelaskan bahwa Levi memiliki riwayat kesehatan yang buruk. "Gulanya tinggi, tensi darahnya juga tinggi," katanya. Ia menuturkan, kondisi Levi memburuk pada Minggu (16/11) sore, hingga mengalami muntah-muntah. Basuki mengaku datang untuk mengantar Levi ke rumah sakit.

Basuki menyebut lokasi kejadian sebagai tempat kos Levi. "Di situ kan dia kos, dia dari Perantauan, aslinya orang Purwokerto, bapak-ibunya sudah meninggal," ujarnya.

Setelah diinfus di rumah sakit, Levi dibawa kembali ke tempat kosnya. Basuki meninggalkan Levi dan kembali keesokan harinya, Senin (17/11) siang, dan menemukan Levi telah tewas dalam keadaan telentang di lantai tanpa busana.

"Terakhir saya antar dan melihatnya masih hidup, itu Levi pakai kaus biru-kuning dan celana training-an. Makanya pas melihat, 'Loh, kok di bawah?'" kata Basuki. Ia menduga kondisi tanpa busana tersebut terjadi karena korban kepanasan sebelum meninggal.

Basuki menyatakan tidak mengetahui pasti penyebab kematian Levi, namun menyebut korban kerap mengonsumsi obat dengan dosis tinggi. "Dia bilang, biasa dosis tinggi, kalau sekadar apotekan enggak mempan," ujarnya. Setelah menemukan jenazah, Basuki mengaku segera menghubungi pihak kepolisian.

Disinggung Soal Hubungan Asmara

Basuki membantah keras adanya hubungan asmara antara dirinya dengan Levi. Ia menyatakan hubungan mereka hanyalah pertemanan dan Levi adalah perempuan yang belum menikah.

"Dulu dia punya pacar, di Jakarta, tapi terlepas dari itu saya kurang tahu hubungannya karena kan privasi," ujar Basuki. Ia mengakui pernah memberikan bantuan biaya untuk Levi, terutama saat korban akan wisuda program doktor. "Dulu saya bilang ke dia, 'Semoga jadi orang besar, jadi anak dan cucu saya bisa belajar' ke dia," kenangnya.

Basuki menegaskan motivasi bantuannya semata-mata karena rasa empati. "Saya sudah tua, mas. Dulu saya di Jakarta dengan posisi serba-kekurangan. Kita andalkan pekerjaan dan kinerja saja, enggak ngarep yang lain-lain," pungkasnya.

Propam Polda Jateng Turun Tangan

Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Tengah telah turun tangan mengumpulkan bahan keterangan terkait kasus ini. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan berdasarkan informasi dari berbagai pihak, termasuk pemberitaan media, rekan sesama dosen, dan pemilik penginapan.

Mengenai kemungkinan pelanggaran etik yang dilakukan oleh Basuki, Artanto menegaskan bahwa proses masih berlangsung. "Saat ini masih berproses. Jadi tentunya kalau terproses kan masih mengumpulkan satu per satu, data-data yang ada. Setelah data itu lengkap, baru kita analisis," jelas Artanto.

Penyebab kematian resmi masih menunggu hasil autopsi. "Iya, begitu juga. Betul. Semua sedang dikumpulkan. Informasi apa pun akan diterima dan akan diolah dan diselidiki," tutup Artanto.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar