BNPB Targetkan Korban Bencana Sumatera Pindah ke Huntara Sebelum Ramadan

- Selasa, 03 Februari 2026 | 20:20 WIB
BNPB Targetkan Korban Bencana Sumatera Pindah ke Huntara Sebelum Ramadan

Target BNPB cukup jelas: warga korban bencana di Sumatera harus sudah pindah ke hunian sementara sebelum Ramadan tiba. Menurut laporan terbaru, penanganan darurat di Aceh, Sumut, dan Sumbar kini perlahan bergeser ke fase pemulihan. Artinya, fokusnya mulai beralih dari tenda darurat ke tempat tinggal yang lebih layak, meski masih bersifat sementara.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Senayan, Selasa (3/2/2026), Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan garis waktu yang ditetapkan.

"Untuk masyarakat yang masih mengungsi, target kami paling lambat sebelum munggah puasa tanggal 18 Februari 2026, mereka sudah bisa pindah ke hunian sementara," tegas Suharyanto.

Ia mengakui pekerjaan masih banyak. Dari total 17.332 unit huntara yang perlu dibangun, baru sekitar 4.979 unit yang benar-benar selesai. Tapi optimisme tetap ada.

"Sisanya, sekitar 11.000 unit lagi, kami yakin bisa diselesaikan. Soalnya, ini bukan berarti belum dibangun sama sekali. Progresnya beragam, ada yang tinggal 60%, 70%, atau 80% penyelesaian. Pengerjaannya serentak di setiap kabupaten dan kota," ujarnya.

BNPB juga punya skema alternatif. Bagi warga yang memilih tinggal bersama keluarga atau kerabat, pemerintah menyediakan bantuan tunai.

"Mereka yang tidak mau masuk huntara dan memilih nempel sama saudara, kami dukung dengan dana tunggu hunian. Besarnya Rp 600 ribu per bulan, untuk tiga bulan," jelas Suharyanto.

Dana tahap pertama sudah disalurkan untuk periode Desember, Januari, dan Februari. "Kalau nanti Februari hunian tetapnya belum siap, akan kami tambah lagi. Saat ini yang sudah cair sekitar 10.409 orang. Masih ada seribuan lebih yang prosesnya tertunda karena masalah verifikasi nama atau pengecekan dari bank," sambungnya.

Di sisi lain, pembangunan hunian tetap sudah mulai dijalankan. Rencananya ada dua skema: pembangunan mandiri oleh warga dan pembangunan terpusat yang dikelola Kementerian PUPR.

Perbaikan infrastruktur juga terus digenjot. Menurut Suharyanto, jalan nasional di Aceh sudah tidak ada yang terputus total, meski masih mengandalkan jembatan darurat seperti jembatan Bailey.

"Semua akses sudah bisa dilalui, kecuali untuk truk berat di atas 30 ton. Seperti kejadian di Jembatan Kuta Blang kemarin, sempat patah lagi karena ada tronton nekat lewat. Sekarang sudah kami batasi," paparnya.

Kondisi listrik di tiga provinsi itu secara umum sudah membaik, meski belum seratus persen. "Beberapa desa di Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Tamiang masih mengalami gangguan," kata Suharyanto.

Layanan internet satelit Starlink yang sempat jadi andalan komunikasi juga sudah banyak yang berfungsi normal kembali. "Tapi di Aceh Tengah dan Gayo Lues, sinyalnya masih bermasalah. Mudah-mudahan perangkat yang sudah kami simpan ini nggak perlu dipakai lagi untuk bencana lain," harapnya.

Pasokan air bersih, BBM, dan LPG juga menunjukkan tren positif. "Air masih terkendala di beberapa kabupaten seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Tapi untuk BBM dan LPG, alhamdulillah antrean panjang di SPBU seperti dulu sudah tidak ada. Pasokan kembali normal," imbuhnya menutup paparan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar