Bappenas Soroti Peran Vital Riset BRIN untuk Dongkrak Produktivitas Peternakan

- Jumat, 27 Maret 2026 | 14:15 WIB
Bappenas Soroti Peran Vital Riset BRIN untuk Dongkrak Produktivitas Peternakan

Di tengah upaya menggenjot produktivitas, sektor peternakan nasional diyakini butuh fondasi yang lebih kokoh. Kuncinya? Penelitian dan pengembangan. Hal itu ditegaskan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, dalam sebuah pertemuan strategis di Jakarta, Jumat lalu.

Menurut Rachmat, kemajuan di bidang pertanian dan peternakan selalu berawal dari riset yang intens. Karena itu, peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dinilainya sangat krusial.

“Semua kemajuan pertanian, peternakan itu dimulai dari penelitian yang intensif. Jadi peran BRIN untuk membangun, meningkatkan produktivitas peternakan kita, mulai dari perunggasan, ruminansia, sapi perah, itu sangat dibutuhkan,” ujar Rachmat.

Ia melihat peran BRIN sebagai fondasi strategis untuk mendongkrak produktivitas, mencakup segala subsektor dari unggas hingga ternak besar seperti sapi potong dan perah. Tanpa itu, target peningkatan produksi bisa jadi sekadar wacana.

Rachmat juga menekankan satu hal mendasar: semuanya harus dimulai dari perbaikan kualitas bibit. Terutama untuk sapi perah. Bibit unggul, baginya, adalah modal utama untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri.

“Bibit adalah sumber daripada kemajuan peningkatan produksi dan produktivitas,” katanya lagi.

Di sisi lain, potensi lain yang belum digarap maksimal adalah pakan ternak. Indonesia punya sumber daya melimpah, terutama dari limbah perkebunan. Kalau dimanfaatkan dengan baik, ini bisa jadi solusi untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi.

Sementara itu, dari sisi pelaksana riset, Kepala BRIN Arif Satria memaparkan arah yang sedang ditempuh lembaganya. Fokusnya adalah mengembangkan riset strategis untuk menciptakan ternak unggul, khususnya sapi perah berproduktivitas tinggi.

“Research yang saat ini dikembangkan di BRIN adalah soal bagaimana kita menghasilkan sapi-sapi unggul melalui breeding dan juga untuk nutrisi, untuk pakan ternak,” jelas Arif.

Riset ini, lanjutnya, tidak dikerjakan sendiri-sendiri. BRIN menggandeng banyak pihak; mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha swasta. Kolaborasi semacam ini diharapkan bisa mempercepat capaian.

Ada tujuan yang lebih besar di balik semua upaya ini: mengurangi ketergantungan pada impor. Produk susu menjadi salah satu yang disorot. Caranya ya dengan meningkatkan produksi dan produktivitas susu lokal.

Tak cuma soal produktivitas, Arif menambahkan bahwa riset peternakan kedepan juga harus peka terhadap tantangan zaman. Perubahan iklim adalah realitas yang tak bisa diabaikan. Maka, sistem peternakan yang dibangun haruslah produktif sekaligus berkelanjutan atau dalam istilah kerennya, sustainable livestock.

Pertemuan strategis yang digelar BRIN itu sendiri dinilai sebagai langkah awal yang penting. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan ada akselerasi dalam transformasi industri peternakan. Tentu, hasilnya baru akan terasa dalam jangka panjang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar