Rabu lalu, suasana kompleks di Hambalang, Bogor, tampak sibuk. Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri kabinetnya untuk sebuah rapat penting. Pertemuan itu dihadiri, antara lain, oleh Menteri Investasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani.
Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, fokus pembicaraan mereka cukup jelas: bagaimana caranya mempercepat program pengelolaan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WTE) di berbagai daerah. Ini bukan wacana baru, tapi kali ini terasa ada desakan untuk segera eksekusi.
"Kepala Danantara Bapak Rosan Roeslani melaporkan perkembangan program Waste To Energy (WTE) di seluruh Indonesia. Khususnya yang berada di kota-kota besar dan padat penduduk seperti DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan kota lainnya,"
kata Teddy dalam keterangannya.
Narasi dari pemerintah terang benderang. Program WTE ini diharapkan jadi solusi strategis untuk dua masalah sekaligus. Di satu sisi, ia dianggap bisa mengatasi persoalan sampah yang selama ini bikin pusing banyak kepala daerah. Di sisi lain, program ini berpotensi menyediakan energi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Presiden Prabowo sendiri, seperti disampaikan Teddy, menginginkan langkah yang cepat dan terintegrasi dari pemerintah pusat. Timbunan sampah yang sudah menggunung dan lama tak tertangani itu harus segera dibersihkan. Lebih dari itu, sampah harus bisa diubah jadi berkah, khususnya menjadi sumber energi listrik.
"Presiden Prabowo menginginkan Pemerintah Pusat segera mengelola sampah-sampah yang telah lama tidak tertangani dengan baik di daerah untuk segera dibersihkan, dihilangkan, dan dimanfaatkan untuk menjadi energi terutama energi listrik,"
ujar dia.
Langkah ini jelas bukan sekadar proyek biasa. Ia menegaskan arah kebijakan yang ingin membangun sistem pengelolaan sampah modern berbasis teknologi. Kalau berjalan mulus, selain mengatasi masalah lingkungan, program ini juga bisa memperkuat ketahanan energi nasional dengan memanfaatkan sumber daya domestik.
Dengan pendekatan hilirisasi yang terintegrasi, dampaknya diharapkan bisa lebih luas. Bukan cuma soal lingkungan yang bersih, tapi juga membuka peluang ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja. Intinya, mendorong kota-kota di Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan mandiri energinya.
Pertemuan di Hambalang itu sendiri juga dihadiri oleh sejumlah nama penting lain. Hadir antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa program ini membutuhkan kolaborasi lintas kementerian yang solid.
Artikel Terkait
Harga BBM Dunia Terbang Akibat Konflik AS-Israel-Iran, Libya dan Iran Paling Murah
Presiden Prabowo: Indonesia Kini Swasembada Pangan, Tak Lagi Impor Beras
Jakarta Mulai Gerakan Pemilahan Sampah Antisipasi Pembatasan Timbunan di Bantargebang
Pemimpin ASEAN Sepakat Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan di Tengah Ketidakpastian Global