Militer Iran akhirnya buka suara. Mereka mengonfirmasi korban jiwa yang cukup besar dari insiden pekan lalu: sedikitnya 104 awak kapal perangnya tewas. Serangan itu, yang mereka klaim berasal dari torpedo Amerika Serikat, terjadi jauh dari rumah, di lepas pantai Sri Lanka.
Pernyataan resmi itu dikeluarkan Senin lalu, seperti dilansir Reuters. Selain yang tewas, tercatat 32 pelaut lain mengalami luka-luka. Jadi, bayangkan saja, sebuah konflik yang memanas ribuan kilometer dari wilayah utama kedua negara, ternyata memakan korban sebanyak itu.
Kapal yang jadi sasaran adalah fregat IRIS Dena. Menurut laporan, kapal itu tenggelam di Samudra Hindia, sekitar 19 mil laut dari kota Galle di selatan Sri Lanka. Kejadiannya pada Rabu pekan lalu.
Nah, saat diserang, kapal tersebut baru saja menyelesaikan sebuah latihan militer di pelabuhan Visakhapatnam, India. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba saja, sebuah kapal selam AS disebut-sebut meluncurkan torpedo yang menghantam mereka. Kedua negara memang sedang terlibat ketegangan yang sengit.
Di sisi lain, upaya penyelamatan dilakukan. Angkatan Laut Sri Lanka berhasil mengevakuasi 32 awak yang selamat. Puluhan jenazah juga berhasil diangkat dari laut oleh pihak Kolombo.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, memberikan gambaran yang lebih jelas.
“Sinyal darurat dari kapal Iran itu diterima saat fajar,” ujarnya.
Tapi sayangnya, kata Sampath, ketika kapal penyelamat tiba di lokasi kurang dari satu jam kemudian, kapal perang itu sudah tenggelam sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah bercak minyak di permukaan laut yang mengilap.
Sebelum konfirmasi dari Iran, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sudah lebih dulu mengumumkan serangan ini. Dia dengan gamblang menyebut sebuah kapal selam AS-lah yang menenggelamkan kapal perang Iran di lokasi yang sama.
Hegseth punya istilah khusus untuk aksi itu: “kematian senyap”.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan sebuah kapal perang Iran yang mengira mereka aman di perairan internasional. Namun, kapal itu justru ditenggelamkan oleh torpedo,” sebutnya.
Jadi, begitulah kronologinya. Sebuah insiden mematikan di tengah laut lepas, yang meninggalkan ratusan korban dan memperkeruh hubungan yang sudah runyam antara Washington dan Tehran.
Artikel Terkait
PAN Nilai Wacana Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol Melanggar Kebebasan Berserikat
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 40 Kawasan Perbatasan
Menteri Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Budaya Indonesia-Prancis, Tindak Lanjuti Borobudur Declaration
Harga Buyback Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun