Hujan Tak Halangi 400 Pelajar Berdebat ala Sidang PBB di Jakarta

- Jumat, 23 Januari 2026 | 19:30 WIB
Hujan Tak Halangi 400 Pelajar Berdebat ala Sidang PBB di Jakarta

Cuaca di Jakarta pada akhir Januari itu memang tak menentu. Tapi, ratusan pelajar dari berbagai daerah justru memadati Ipeka Integrated Christian School. Mereka datang untuk satu tujuan: ajang Model United Nations (MUN) terbesar di Indonesia, yang digelar 23-24 Januari 2026. Bayangkan saja, simulasi sidang PBB ini benar-benar menghidupkan suasana diplomasi internasional di dalam ruang kelas.

Di sini, mereka bukan lagi siswa biasa. Mereka adalah duta besar, mewakili kepentingan suatu bangsa. Mereka beradu argumen, bernegosiasi, dan berusaha mencari solusi untuk masalah-masalah dunia yang nyata. Intinya, ini lebih dari sekadar lomba. Ini adalah wadah untuk mengasah kemampuan public speaking, berpikir kritis, dan tentu saja, memahami politik global yang ruwet.

Viori Deandra, selaku Wakil Sekretaris Jenderal Internal acara ini, punya penjelasan yang gamblang.

"Tujuan utama dari acara Model United Nations kita adalah untuk melatih keterampilan para murid yang hadir untuk bekerja sama dengan murid-murid yang lain dan juga melatih di public speaking mereka," ujar Viori, saat ditemui di sekolah tersebut di Jakarta Barat, Jumat lalu.

Menurut Viori, fokusnya jelas: membangun kepemimpinan dan kolaborasi. Acara ini dirancang sedemikian rupa agar mirip betul dengan sidang internasional sesungguhnya, di mana setiap kata harus ditimbang dan setiap usulan harus logis.

Yang menarik, antusiasme peserta ternyata sangat tinggi. Meski cuaca kurang bersahabat, hampir 400 siswa rela datang jauh-jauh ke ibu kota.

“Sekolah yang kami undang lebih dari 50, tidak hanya dari Jakarta. Mereka harus jalan ke Jakarta untuk mengikuti kompetisi kami. Jadi ada yang dari Sumatera, ada yang dari Sulawesi dan lain-lain. Total kita ada 394 siswa," tuturnya.

Pelaksanaannya sendiri dibagi dalam beberapa sesi atau dewan. Setiap dewan punya tema spesifik untuk didiskusikan, misalnya soal kesetaraan gender atau krisis iklim. Nah, di sinilah kemampuan diplomasi diuji.

Setiap peserta, yang memerankan delegasi satu negara, harus menyampaikan posisi resmi negaranya. Lalu, dari debat yang alot itu, mereka ditantang untuk merumuskan solusi bersama. Bukan hal yang mudah.

"Ada isu tertentu yang dipilih. Jadi satu murid satu negara, mereka akan berikan sudut pandang negara itu kepada isu global yang didebatkan dan mereka bisa membuat solusi dari permasalahan tersebut," papar Viori.

Pada akhirnya, lewat gelaran besar seperti ini, Ipeka tak cuma menunjukkan skalanya. Mereka menegaskan komitmen untuk mencetak generasi yang tak cuma pintar, tapi juga punya wawasan global dan keberanian untuk bersuara. Calon-calon diplomat masa depan, mungkin saja lahir dari sini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar